Contoh Soal Energi Potensial dan Pembahasannya: 12 Nomor Gravitasi dan Pegas
Kumpulan contoh soal energi potensial dan pembahasannya, 12 nomor bertingkat yang mencakup energi potensial gravitasi Ep = m g h, energi potensial pegas Ep = 1/2 k x kuadrat, hubungannya dengan usaha dan gaya konservatif, sampai hukum kekekalan energi mekanik. Dilengkapi penjelasan titik acuan yang jadi sumber kebingungan terbesar siswa, tabel rumus dan satuan, serta rekap jawaban lengkap.

Kumpulan contoh soal energi potensial dan pembahasannya berikut memuat 12 nomor lengkap dengan langkah hitung, dibagi menjadi tiga kelompok: energi potensial gravitasi (Ep = m g h), energi potensial pegas (Ep = 1/2 k x²), dan soal gabungan yang memakai hukum kekekalan energi mekanik. Semua angka di sini sudah dikerjakan ulang dari nol, dan tiap langkahnya ditulis apa adanya lengkap dengan satuan, supaya kamu bisa mengecek sendiri di mana letak salahnya kalau jawabanmu berbeda.
Sebelum masuk ke nomor pertama, ada satu hal yang perlu kamu bereskan lebih dulu, dan justru inilah yang paling sering membuat jawaban siswa meleset. Energi potensial bukan sifat benda yang berdiri sendiri, melainkan sifat susunan benda terhadap sesuatu yang lain. Karena itu nilainya bergantung pada titik acuan yang kamu pilih, dan titik acuan itu boleh kamu tentukan sendiri. Bagian awal artikel ini membahas urusan acuan sampai tuntas supaya nomor-nomor berikutnya terasa jauh lebih ringan.
Pengertian Energi Potensial dan Beda Tegasnya dengan Energi Kinetik
Energi potensial adalah energi yang tersimpan pada suatu sistem karena posisi atau bentuk susunannya, bukan karena benda itu sedang bergerak. Sebuah buku yang diam di rak lemari tidak punya energi kinetik sama sekali, tetapi ia menyimpan energi potensial gravitasi karena berada di ketinggian tertentu terhadap lantai. Begitu buku itu terjatuh, simpanan tadi berubah menjadi gerakan. Pegas yang ditekan lalu ditahan juga persis begitu: diam, tetapi menyimpan energi yang siap dilepas.
Kata kuncinya adalah tersimpan. Energi kinetik menggambarkan keadaan benda saat ini (seberapa cepat ia bergerak), sedangkan energi potensial menggambarkan potensi benda untuk bergerak nanti (seberapa besar energi yang bisa dilepaskan kalau dibiarkan). Dua-duanya diukur dalam satuan yang sama, yaitu joule, dan justru karena satuannya sama keduanya bisa dijumlahkan menjadi energi mekanik.
Perbedaan ini penting karena banyak soal yang sengaja mencampur keduanya. Kalau kamu belum kokoh membedakan mana yang mana, langkah pertamamu sudah salah sebelum menghitung apa pun. Tabel berikut merangkum bedanya.
| Pembanding | Energi Potensial (Ep) | Energi Kinetik (Ek) |
|---|---|---|
| Penyebab | Posisi atau bentuk susunan | Gerak (kelajuan benda) |
| Rumus utama | m g h (gravitasi), 1/2 k x² (pegas) | 1/2 m v² |
| Nilai saat benda diam | Bisa tetap besar | Selalu nol |
| Bisa bernilai negatif? | Bisa, tergantung titik acuan | Tidak pernah, karena v² selalu positif |
| Bergantung titik acuan? | Ya, mutlak bergantung | Tidak, hanya bergantung kerangka acuan kecepatan |
| Milik siapa | Sistem (benda dan bumi, atau benda dan pegas) | Benda itu sendiri |
| Satuan | joule (J) | joule (J) |
Baris paling menentukan adalah dua baris terakhir sebelum satuan. Energi kinetik tidak pernah negatif dan tidak butuh titik acuan tinggi, sementara energi potensial gravitasi bisa saja bernilai negatif dan selalu menuntut kamu menyebut acuannya. Kalau yang kamu cari adalah pembahasan rumus 1/2 m v² beserta teorema usaha-energi dan energi kinetik rotasi, itu topik berbeda yang sudah dibahas terpisah di contoh soal energi kinetik dan pembahasannya. Artikel yang sedang kamu baca ini fokus pada sisi simpanannya, bukan sisi geraknya.
Ringkasnya: energi kinetik menjawab pertanyaan seberapa cepat benda ini bergerak sekarang, energi potensial menjawab seberapa besar energi yang tersimpan dan siap dilepas. Kalau soal menyebut kelajuan, mulailah dari energi kinetik. Kalau soal menyebut ketinggian, pemampatan pegas, atau pertambahan panjang pegas, mulailah dari energi potensial.
Kesepakatan Angka dan Satuan yang Dipakai di Artikel Ini
Supaya semua hasil bisa kamu cocokkan tanpa ambiguitas, artikel ini memakai satu kesepakatan angka: percepatan gravitasi g = 10 m/s² untuk seluruh soal, tanpa kecuali. Nilai ini juga yang dipakai artikel energi kinetik di situs ini, jadi angka antar-artikel tetap konsisten. Kalau gurumu memakai g = 9,8 m/s², hasil akhirnya bergeser sedikit tetapi seluruh urutan langkahnya sama persis, tinggal ganti pengalinya.
Sudut istimewa yang muncul di soal bidang miring memakai sin 30° = 0,5. Kalau kamu masih ragu dengan nilai sudut istimewa, tinjau ulang lewat contoh soal trigonometri sebelum lanjut, karena kesalahan pada sin sering menyeret seluruh hitungan energi jadi salah.
Satuan dasar yang dipakai konsisten dari awal sampai akhir: massa dalam kilogram (kg), ketinggian dan simpangan dalam meter (m), konstanta pegas dalam newton per meter (N/m), gaya dalam newton (N), dan energi dalam joule (J). Semua gesekan dan hambatan udara diabaikan kecuali soal menyebutkan sebaliknya. Satu joule sendiri setara dengan satu newton meter, yaitu usaha yang dilakukan gaya 1 N sepanjang perpindahan 1 m searah gaya itu.
Energi Potensial Gravitasi dan Rumus Ep = m g h
Untuk benda di dekat permukaan bumi, energi potensial gravitasi dihitung dengan rumus:
Ep = m g h
dengan m massa benda dalam kilogram, g percepatan gravitasi dalam m/s², dan h ketinggian benda diukur dari titik acuan dalam meter. Hasilnya keluar dalam joule. Cek satuannya: kg dikali m/s² menghasilkan newton, lalu dikali meter menghasilkan newton meter, dan newton meter adalah joule. Kalau satuan yang keluar dari hitunganmu bukan joule, berarti ada angka yang salah masuk.
Rumus ini bersifat linier terhadap ketinggian. Menggandakan h menggandakan Ep, menggandakan m juga menggandakan Ep. Perilakunya berbeda dari energi kinetik yang kuadratik terhadap kecepatan, dan perbedaan sifat ini kadang dipakai penyusun soal untuk menjebak. Kalau ketinggian dinaikkan tiga kali, energi potensial menjadi tiga kali, bukan sembilan kali.
Perlu diingat bahwa rumus m g h hanyalah pendekatan yang berlaku selama g bisa dianggap tetap, yaitu untuk ketinggian yang jauh lebih kecil dibanding jari-jari bumi. Untuk soal tingkat SMA dan tes masuk perguruan tinggi, pendekatan ini selalu memadai dan memang itu yang diminta.
Titik Acuan Energi Potensial Itu Pilihan, Bukan Aturan Mutlak
Inilah bagian yang paling sering salah dipahami, dan banyak ringkasan materi yang beredar justru melewatkannya. Nilai energi potensial gravitasi tidak punya angka mutlak. Yang punya makna fisis adalah selisih energi potensial antara dua posisi, bukan angka tunggalnya. Buku teks fisika universitas menyebut hal ini sebagai kebebasan menentukan titik nol fungsi energi potensial.

Artinya kamu bebas menentukan di mana h = 0. Kalau kamu meletakkan acuan di lantai, benda setinggi 2 m punya Ep positif. Kalau kamu meletakkan acuan di langit-langit, benda yang sama justru punya Ep negatif. Dua-duanya benar, dan dua-duanya menghasilkan jawaban akhir yang identik untuk pertanyaan yang benar-benar fisis, seperti berapa kelajuan benda saat menyentuh lantai.
Karena itu ada dua aturan kerja yang wajib kamu pegang. Pertama, sebutkan acuanmu secara eksplisit di lembar jawaban, misalnya dengan menulis acuan: permukaan tanah. Kedua, jangan pernah mengganti acuan di tengah pengerjaan satu soal. Mencampur dua acuan dalam satu persamaan kekekalan energi adalah penyebab paling umum jawaban meleset padahal rumusnya sudah benar.
Konsekuensi berikutnya: energi potensial gravitasi boleh bernilai negatif. Benda yang berada di bawah titik acuan punya h negatif, sehingga Ep-nya negatif. Angka negatif di sini bukan tanda kesalahan hitung, melainkan cara matematika memberi tahu bahwa benda berada lebih rendah daripada acuan yang kamu pilih. Ini kontras tajam dengan energi kinetik yang tidak pernah bisa negatif.
Trik memilih acuan yang menghemat waktu: letakkan h = 0 di titik terendah lintasan yang disebut soal. Dengan begitu semua nilai Ep jadi positif dan kamu terhindar dari salah tanda. Kalau soal sudah menentukan acuannya sendiri, ikuti soal, jangan pakai acuan versimu.
Energi Potensial Pegas, Hukum Hooke, dan Rumus Ep = 1/2 k x kuadrat
Jenis energi potensial kedua yang wajib kamu kuasai adalah energi potensial pegas, sering disebut juga energi potensial elastis. Rumusnya:

Ep = 1/2 k x²
dengan k konstanta pegas dalam N/m dan x simpangan pegas dari posisi alaminya dalam meter. Simpangan x boleh berupa pertambahan panjang (ditarik) maupun pemampatan (ditekan), dan hasilnya sama karena x dikuadratkan. Inilah alasan energi potensial pegas tidak pernah negatif, berbeda dari energi potensial gravitasi.
Rumus tersebut berakar pada hukum Hooke, yaitu F = k x, yang menyatakan gaya pegas sebanding dengan simpangannya selama pegas belum melewati batas elastisitasnya. Karena gaya pegas tidak tetap melainkan tumbuh sebanding dengan x, usaha yang dibutuhkan untuk menariknya bukan F dikali x, melainkan rata-ratanya, yaitu 1/2 F x. Substitusikan F = k x ke situ dan kamu langsung mendapat 1/2 k x². Dua bentuk itu setara dan boleh kamu pakai bergantian sebagai alat cek silang.
Sifat kuadratik pegas ini yang bikin banyak orang keliru. Kalau simpangan digandakan, energi yang tersimpan menjadi empat kali lipat, bukan dua kali. Kalau simpangan dijadikan tiga kali, energinya sembilan kali. Sifat ini kebetulan mirip dengan hubungan energi kinetik terhadap kecepatan, jadi kalau kamu sudah terbiasa dengan yang satu, yang lain akan terasa akrab.
Kesalahan satuan nomor satu pada soal pegas: memasukkan x dalam sentimeter. Simpangan 5 cm harus ditulis 0,05 m sebelum dikuadratkan. Kalau kamu lupa mengubahnya, hasilnya meleset 10.000 kali karena kesalahan itu ikut terkuadratkan. Biasakan mengubah semua panjang ke meter di baris pertama pengerjaan, sebelum menyentuh rumus.
Hubungan Energi Potensial dengan Usaha dan Gaya Konservatif
Energi potensial hanya bisa didefinisikan untuk gaya tertentu yang disebut gaya konservatif. Gaya disebut konservatif kalau usaha yang dilakukannya hanya bergantung pada posisi awal dan posisi akhir, tidak pada jalur yang ditempuh. Gaya gravitasi dan gaya pegas keduanya konservatif. Gaya gesek tidak, karena usahanya makin besar kalau lintasannya makin panjang.
Hubungan formalnya sederhana: usaha yang dilakukan gaya konservatif sama dengan pengurangan energi potensial sistem, ditulis W = -ΔEp. Tanda minusnya punya arti yang masuk akal. Saat benda jatuh, gravitasi melakukan usaha positif dan energi potensialnya berkurang. Sebaliknya, saat kamu mengangkat benda pelan-pelan dengan kelajuan tetap, usaha yang kamu lakukan positif dan energi potensialnya bertambah sebesar usaha itu.
Konsekuensi praktisnya besar sekali untuk mengerjakan soal. Karena usaha gravitasi tidak bergantung jalur, kamu tidak perlu peduli apakah benda naik lewat tangga lurus, bidang miring landai, atau lintasan berkelok. Yang dihitung hanya selisih ketinggiannya. Dua benda identik yang naik ke lantai yang sama lewat rute berbeda mengalami perubahan energi potensial yang persis sama.
Sifat inilah yang membuat selisih energi potensial bermakna fisis meski nilai tunggalnya bergantung acuan. Ketika kamu menghitung ΔEp, angka acuan yang kamu pilih akan saling menghapus, sehingga hasil akhirnya sama untuk semua orang, apa pun acuan yang mereka pakai.
Hukum Kekekalan Energi Mekanik yang Menyambungkan Ep dan Ek
Jumlah energi kinetik dan energi potensial suatu sistem disebut energi mekanik, ditulis Em = Ek + Ep. Selama hanya gaya konservatif yang bekerja, jadi tanpa gesekan dan tanpa hambatan udara, energi mekanik ini bernilai tetap dari awal sampai akhir gerakan:
Ek1 + Ep1 = Ek2 + Ep2
Persamaan tersebut adalah alat paling ampuh untuk soal-soal campuran. Ia membebaskanmu dari keharusan menghitung percepatan, waktu, atau gaya. Kamu cukup membandingkan dua keadaan: keadaan awal dan keadaan yang ditanyakan. Semua yang terjadi di antaranya tidak perlu diurus.
Contoh paling gampang adalah benda jatuh bebas. Di titik tertinggi, seluruh energi mekanik berbentuk energi potensial dan energi kinetiknya nol. Saat menyentuh tanah, seluruhnya sudah berubah jadi energi kinetik dan energi potensialnya nol. Di antara keduanya, jumlah Ek dan Ep selalu sama dengan m g H. Sifat ini juga menjadi cara tercepat mengecek jawabanmu sendiri: hitung Ek dan Ep di titik yang ditanya, jumlahkan, dan hasilnya harus sama dengan energi mekanik awal.
Kalau gesekan ikut bekerja, energi mekanik tidak lagi kekal. Sebagian berubah menjadi kalor, sehingga Em akhir lebih kecil daripada Em awal. Selisihnya sama dengan besar usaha gesek. Untuk soal-soal di artikel ini, semua lintasan dianggap licin, jadi kekekalan energi mekanik berlaku penuh. Materi ini termasuk yang perlu kamu kuasai kalau memilih Fisika, dan gambaran cakupannya bisa kamu cek di rangkuman materi UTBK.
Tabel Rumus, Simbol, Satuan, dan Dimensi Energi Potensial
Tabel berikut merangkum semua besaran yang dipakai di 12 soal nanti. Kolom dimensi berguna untuk mengecek apakah rumus yang kamu susun sudah masuk akal secara satuan sebelum angkanya dimasukkan.
| Besaran | Simbol | Rumus | Satuan SI | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| Massa | m | besaran pokok | kilogram (kg) | M |
| Percepatan gravitasi | g | besaran turunan | m/s² | L T⁻² |
| Ketinggian dari acuan | h | besaran pokok | meter (m) | L |
| Energi potensial gravitasi | Ep | m g h | joule (J) | M L² T⁻² |
| Konstanta pegas | k | F dibagi x | N/m | M T⁻² |
| Simpangan pegas | x | besaran pokok | meter (m) | L |
| Energi potensial pegas | Ep | 1/2 k x² | joule (J) | M L² T⁻² |
| Gaya pegas | F | k x | newton (N) | M L T⁻² |
| Energi kinetik | Ek | 1/2 m v² | joule (J) | M L² T⁻² |
| Energi mekanik | Em | Ek + Ep | joule (J) | M L² T⁻² |
Perhatikan bahwa energi potensial gravitasi, energi potensial pegas, energi kinetik, dan usaha punya dimensi yang identik, yaitu M L² T⁻². Kesamaan dimensi inilah izin matematis untuk menjumlahkan dan mengurangkan mereka dalam satu persamaan kekekalan energi.
Contoh Soal Energi Potensial Gravitasi (Nomor 1 sampai 5)
Soal 1. Sebuah benda bermassa 4 kg berada di ketinggian 5 m di atas lantai. Berapa energi potensial gravitasinya dengan acuan lantai?

Pembahasan. Data: m = 4 kg, h = 5 m, g = 10 m/s², acuan lantai. Masukkan ke rumus: Ep = m g h = 4 × 10 × 5. Hitung bertahap, 4 × 10 = 40, lalu 40 × 5 = 200. Jawabannya Ep = 200 J. Cek satuan: kg × m/s² × m = N × m = J, sudah benar.
Soal 2. Sebuah lampu bermassa 2,5 kg tergantung 3 m di atas lantai sebuah kamar. Kamar itu sendiri berada di lantai dua, yang permukaannya 4 m di atas tanah. Hitung energi potensial lampu dengan acuan (a) lantai kamar, dan (b) permukaan tanah.
Pembahasan. Bagian (a), acuan lantai kamar, sehingga h = 3 m. Ep = 2,5 × 10 × 3 = 75 J. Bagian (b), acuan permukaan tanah, sehingga ketinggian lampu menjadi 3 + 4 = 7 m. Ep = 2,5 × 10 × 7 = 175 J. Jadi (a) 75 J dan (b) 175 J. Selisih kedua jawaban adalah 175 - 75 = 100 J, dan angka itu persis sama dengan m g dikali beda tinggi dua acuan, yaitu 2,5 × 10 × 4 = 100 J. Dua jawaban berbeda ini sama-sama benar karena acuannya memang berbeda.
Soal 3. Sebuah ember bermassa 3 kg tergantung 6 m di bawah permukaan tanah di dalam sebuah sumur yang kedalamannya 10 m. Hitung energi potensial ember dengan acuan (a) permukaan tanah, dan (b) dasar sumur.
Pembahasan. Bagian (a), acuan permukaan tanah dan ember berada di bawahnya, jadi h = -6 m. Ep = 3 × 10 × (-6) = -180 J. Nilai negatif ini benar, artinya ember berada lebih rendah daripada acuan. Bagian (b), acuan dasar sumur, sehingga ember berada 10 - 6 = 4 m di atas acuan. Ep = 3 × 10 × 4 = 120 J. Jadi (a) -180 J dan (b) +120 J. Selisihnya 120 - (-180) = 300 J, cocok dengan m g dikali kedalaman sumur, yaitu 3 × 10 × 10 = 300 J.
Soal 4. Sebuah lift bermassa total 60 kg naik dari lantai satu ke lantai empat. Tinggi tiap lantai 3,5 m. Berapa pertambahan energi potensial lift, dan berapa usaha minimum yang dibutuhkan untuk mengangkatnya?
Pembahasan. Dari lantai satu ke lantai empat berarti naik 3 tingkat, bukan 4. Jadi Δh = 3 × 3,5 = 10,5 m. Pertambahan energi potensial ΔEp = m g Δh = 60 × 10 × 10,5. Hitung bertahap, 60 × 10 = 600, lalu 600 × 10,5 = 6.300. Jadi ΔEp = 6.300 J, dan usaha minimum yang dibutuhkan juga 6.300 J karena lift diangkat tanpa perubahan kelajuan. Perhatikan bahwa soal ini tidak menyebut acuan sama sekali, dan memang tidak perlu, sebab yang ditanya adalah selisih.
Soal 5. Sebuah peti bermassa 6 kg didorong ke atas sepanjang bidang miring licin sejauh 8 m. Bidang miring membentuk sudut 30° terhadap horizontal. Berapa pertambahan energi potensial gravitasi peti?
Pembahasan. Yang masuk ke rumus Ep adalah ketinggian vertikal, bukan panjang lintasan. Cari dulu tingginya, h = s sin θ = 8 × sin 30° = 8 × 0,5 = 4 m. Baru masukkan ke rumus, Ep = m g h = 6 × 10 × 4. Hitung bertahap, 6 × 10 = 60, lalu 60 × 4 = 240. Jadi ΔEp = 240 J. Kalau kamu langsung memakai 8 m sebagai h, hasilnya 480 J dan itu keliru dua kali lipat. Kesalahan memakai panjang lintasan sebagai ketinggian adalah jebakan klasik pada soal bidang miring.
Contoh Soal Energi Potensial Pegas (Nomor 6 sampai 9)
Soal 6. Sebuah pegas dengan konstanta 200 N/m ditarik sehingga bertambah panjang 10 cm. Hitung (a) gaya pegas, (b) energi potensial pegas, dan (c) energi potensial pegas kalau pertambahan panjangnya dijadikan 20 cm.
Pembahasan. Ubah dulu satuannya, 10 cm = 0,10 m dan 20 cm = 0,20 m. Bagian (a), pakai hukum Hooke, F = k x = 200 × 0,10 = 20 N. Bagian (b), Ep = 1/2 k x² = 1/2 × 200 × (0,10)² = 1/2 × 200 × 0,01 = 1 J. Bagian (c), Ep = 1/2 × 200 × (0,20)² = 1/2 × 200 × 0,04 = 4 J. Jadi (a) 20 N, (b) 1 J, (c) 4 J. Perhatikan bagian (c): simpangan digandakan, energinya menjadi empat kali lipat, bukan dua kali, karena x dikuadratkan.
Soal 7. Sebuah pegas ditarik dengan gaya 30 N sehingga bertambah panjang 6 cm. Hitung konstanta pegas dan energi potensial yang tersimpan padanya.
Pembahasan. Ubah satuan, 6 cm = 0,06 m. Konstanta pegas dari hukum Hooke, k = F dibagi x = 30 dibagi 0,06 = 500 N/m. Lalu energi potensialnya, Ep = 1/2 k x² = 1/2 × 500 × (0,06)² = 1/2 × 500 × 0,0036 = 0,9 J. Jadi k = 500 N/m dan Ep = 0,9 J. Cek silang dengan bentuk kedua, Ep = 1/2 F x = 1/2 × 30 × 0,06 = 0,9 J, hasilnya sama. Kalau kamu tergoda menulis Ep = F x = 1,8 J, itu keliru, karena gaya pegas tumbuh dari nol sampai 30 N, bukan tetap 30 N sepanjang tarikan.
Soal 8. Sebuah pegas mainan dengan konstanta 1.000 N/m ditekan sejauh 4 cm, lalu dilepas untuk melontarkan bola bermassa 0,1 kg pada lantai datar yang licin. Hitung energi potensial pegas dan kelajuan bola setelah lepas dari pegas.
Pembahasan. Ubah satuan, 4 cm = 0,04 m. Energi potensial pegas, Ep = 1/2 k x² = 1/2 × 1.000 × (0,04)² = 1/2 × 1.000 × 0,0016 = 0,8 J. Seluruh energi ini berubah menjadi energi kinetik bola karena lantainya licin, jadi 1/2 m v² = 0,8. Susun ulang, v² = 2 × 0,8 dibagi 0,1 = 1,6 dibagi 0,1 = 16, sehingga v = akar dari 16 = 4 m/s. Jadi Ep = 0,8 J dan v = 4 m/s. Perhatikan bahwa ketinggian tidak muncul sama sekali di sini karena gerakannya mendatar, jadi energi potensial gravitasi tidak berubah.
Soal 9. Sebuah pegas menyimpan energi potensial 1,5 J. Konstanta pegasnya 300 N/m. Berapa simpangan pegas tersebut?
Pembahasan. Ini soal kebalikan, yang dicari x. Mulai dari Ep = 1/2 k x², lalu susun ulang menjadi x² = 2 Ep dibagi k = (2 × 1,5) dibagi 300 = 3 dibagi 300 = 0,01. Ambil akarnya, x = akar dari 0,01 = 0,1 m. Jadi x = 0,1 m atau 10 cm. Cek balik: Ep = 1/2 × 300 × 0,01 = 1,5 J, cocok. Jangan lupa mengambil akar di langkah terakhir, karena banyak yang berhenti di 0,01 dan menjawab 1 cm.
Contoh Soal Gabungan Energi Potensial dan Energi Kinetik (Nomor 10 sampai 12)
Soal 10. Buah kelapa bermassa 2 kg jatuh bebas dari ketinggian 20 m. Hitung energi potensial, energi kinetik, dan kelajuannya saat berada 15 m di atas tanah. Gunakan acuan permukaan tanah.

Pembahasan. Energi mekanik awal seluruhnya berupa energi potensial karena benda dilepas tanpa kecepatan awal, jadi Em = m g H = 2 × 10 × 20 = 400 J. Nilai ini tetap sepanjang gerakan. Di ketinggian 15 m, energi potensialnya Ep = 2 × 10 × 15 = 300 J. Karena Em kekal, energi kinetiknya Ek = 400 - 300 = 100 J. Kelajuannya dari 1/2 m v² = 100, sehingga v² = 2 × 100 dibagi 2 = 100 dan v = akar dari 100 = 10 m/s. Jadi Ep = 300 J, Ek = 100 J, dan v = 10 m/s. Cek silang dengan rumus gerak jatuh bebas, v = akar dari (2 g Δh) = akar dari (2 × 10 × 5) = akar dari 100 = 10 m/s, cocok.
Soal 11. Sebuah bandul bermassa 0,2 kg diayunkan dari posisi 0,45 m di atas titik terendah lintasannya. Berapa kelajuan bandul saat melewati titik terendah? Abaikan gesekan.
Pembahasan. Pilih acuan di titik terendah supaya semua angka positif. Di posisi awal, bandul diam sehingga Ek1 = 0 dan Ep1 = m g h = 0,2 × 10 × 0,45 = 0,9 J. Di titik terendah, h = 0 sehingga Ep2 = 0 dan seluruh energi berubah jadi energi kinetik, Ek2 = 0,9 J. Dari 1/2 m v² = 0,9 diperoleh v² = 2 × 0,9 dibagi 0,2 = 1,8 dibagi 0,2 = 9, sehingga v = akar dari 9 = 3 m/s. Jadi v = 3 m/s. Perhatikan bahwa panjang tali dan sudut ayunan tidak diperlukan sama sekali, karena yang menentukan hanyalah beda ketinggian.
Soal 12. Sebuah balok bermassa 0,5 kg meluncur dari keadaan diam menuruni lintasan licin setinggi 0,8 m. Di dasar lintasan yang datar dan licin, balok menumbuk sebuah pegas berkonstanta 800 N/m. Hitung kelajuan balok tepat sebelum menumbuk pegas dan pemampatan maksimum pegas.
Pembahasan. Tahap pertama, dari puncak ke dasar lintasan. Acuan diletakkan di dasar lintasan. Energi potensial awal Ep = m g h = 0,5 × 10 × 0,8 = 4 J, dan seluruhnya berubah jadi energi kinetik di dasar. Dari 1/2 m v² = 4 diperoleh v² = 2 × 4 dibagi 0,5 = 8 dibagi 0,5 = 16, sehingga v = akar dari 16 = 4 m/s. Tahap kedua, dari dasar ke pemampatan maksimum. Pada saat pegas tertekan paling dalam, balok berhenti sesaat sehingga energi kinetiknya nol dan seluruh 4 J itu tersimpan sebagai energi potensial pegas. Dari 1/2 k x² = 4 diperoleh x² = 2 × 4 dibagi 800 = 8 dibagi 800 = 0,01, sehingga x = akar dari 0,01 = 0,1 m. Jadi v = 4 m/s dan pemampatan maksimum 0,1 m atau 10 cm. Soal ini memperlihatkan rantai perubahan yang lengkap: energi potensial gravitasi menjadi energi kinetik, lalu menjadi energi potensial pegas, tanpa ada yang hilang karena semuanya licin.
Rekap Jawaban, Kesalahan Umum, dan Cara Melatihnya
Berikut rekap seluruh jawaban supaya kamu bisa mencocokkan hasil sendiri dengan cepat. Semua memakai g = 10 m/s².
| Nomor | Jenis | Data pokok | Jawaban |
|---|---|---|---|
| 1 | Gravitasi | m = 4 kg, h = 5 m | 200 J |
| 2 | Gravitasi | m = 2,5 kg, dua acuan | 75 J dan 175 J |
| 3 | Gravitasi | m = 3 kg, di bawah acuan | -180 J dan +120 J |
| 4 | Gravitasi | m = 60 kg, naik 10,5 m | 6.300 J |
| 5 | Gravitasi | m = 6 kg, s = 8 m, 30 derajat | 240 J |
| 6 | Pegas | k = 200 N/m, x = 0,10 m | 20 N, 1 J, 4 J |
| 7 | Pegas | F = 30 N, x = 0,06 m | 500 N/m dan 0,9 J |
| 8 | Pegas | k = 1.000 N/m, x = 0,04 m | 0,8 J dan 4 m/s |
| 9 | Pegas | Ep = 1,5 J, k = 300 N/m | 0,1 m |
| 10 | Gabungan | m = 2 kg, H = 20 m, h = 15 m | 300 J, 100 J, 10 m/s |
| 11 | Gabungan | m = 0,2 kg, h = 0,45 m | 3 m/s |
| 12 | Gabungan | m = 0,5 kg, h = 0,8 m, k = 800 N/m | 4 m/s dan 0,1 m |
Ada lima kesalahan yang paling sering muncul dan semuanya bisa dicegah dengan disiplin kecil. Pertama, tidak menyebut titik acuan lalu diam-diam menggantinya di tengah pengerjaan. Kedua, memakai panjang lintasan bidang miring sebagai ketinggian, padahal yang benar adalah s sin θ. Ketiga, memasukkan simpangan pegas dalam sentimeter tanpa mengubahnya ke meter. Keempat, lupa mengambil akar di langkah terakhir saat mencari x atau v. Kelima, menganggap energi potensial tidak boleh negatif, padahal nilai negatif justru wajar untuk posisi di bawah acuan.
Cara melatihnya juga sederhana. Kerjakan tiap nomor tanpa melihat pembahasan, lalu bandingkan bukan hanya angka akhirnya melainkan juga urutan langkahnya. Kalau angkamu benar tetapi langkahmu berbeda jauh, kemungkinan besar kamu sedang beruntung, bukan sedang paham. Setelah semua nomor di atas terasa mudah, lanjutkan ke sisi geraknya lewat contoh soal energi kinetik supaya dua sisi energi mekanik itu utuh di kepalamu.
Fisika muncul sebagai salah satu mata pelajaran pilihan pada Tes Kemampuan Akademik, sehingga topik usaha dan energi ini relevan buat kamu yang mengincar program studi rumpun sains dan teknik. Latihan formatnya bisa kamu mulai dari contoh soal TKA. Untuk UTBK-SNBT sendiri, materi yang diujikan berupa Tes Potensi Skolastik dan Tes Literasi, jadi kemampuan berhitung dan menalar kuantitatif yang kamu asah lewat soal energi ini tetap terpakai walau bentuk soalnya berbeda. Rinciannya bisa kamu telusuri di penjelasan subtes UTBK.
Kalau kamu ingin mengukur sejauh mana penguasaanmu dalam kondisi berbatas waktu, ikuti simulasi lewat try out UTBK. Bank soal dan tryout di Target Lulus juga menyediakan paket latihan bertahap yang bisa kamu pakai untuk mengulang topik energi sampai benar-benar otomatis. Kunci sebenarnya bukan menghafal rumus, melainkan terbiasa menuliskan acuan, mengubah satuan lebih dulu, dan mengecek ulang jumlah Ek dan Ep di akhir pengerjaan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa rumus energi potensial dan apa arti tiap simbolnya?
Ada dua rumus utama. Untuk energi potensial gravitasi di dekat permukaan bumi berlaku Ep = m g h, dengan m massa dalam kilogram, g percepatan gravitasi dalam m/s kuadrat, dan h ketinggian dari titik acuan dalam meter. Untuk energi potensial pegas berlaku Ep = 1/2 k x kuadrat, dengan k konstanta pegas dalam N/m dan x simpangan pegas dari panjang alaminya dalam meter. Keduanya menghasilkan satuan joule.
Apa beda energi potensial dan energi kinetik?
Energi potensial adalah energi yang tersimpan karena posisi atau bentuk susunan sistem, sedangkan energi kinetik adalah energi yang dimiliki benda karena geraknya. Benda diam bisa punya energi potensial besar, tetapi energi kinetiknya pasti nol. Energi potensial gravitasi juga bisa bernilai negatif tergantung titik acuan, sementara energi kinetik tidak pernah negatif karena kecepatannya dikuadratkan.
Kenapa energi potensial gravitasi bisa bernilai negatif?
Karena h diukur dari titik acuan yang kamu pilih sendiri, dan benda yang berada di bawah acuan punya h negatif. Contohnya ember di dalam sumur sedalam 6 m dengan acuan permukaan tanah punya h = -6 m, sehingga Ep-nya negatif. Nilai negatif itu bukan kesalahan hitung, melainkan keterangan bahwa posisi benda lebih rendah daripada acuan. Kalau acuannya dipindah ke dasar sumur, nilainya berubah menjadi positif.
Bagaimana cara memilih titik acuan energi potensial yang benar?
Tidak ada titik acuan yang mutlak benar karena yang bermakna fisis adalah selisih energi potensial, bukan nilai tunggalnya. Kalau soal sudah menyebut acuannya, ikuti soal. Kalau tidak, letakkan h = 0 di titik terendah lintasan supaya semua nilai positif dan kamu terhindar dari salah tanda. Aturan yang tidak boleh dilanggar adalah memakai satu acuan yang sama dari awal sampai akhir pengerjaan satu soal.
Kenapa rumus energi potensial pegas memakai angka 1/2?
Karena gaya pegas tidak tetap, melainkan tumbuh sebanding dengan simpangan sesuai hukum Hooke F = k x. Usaha yang dibutuhkan bukan gaya maksimum dikali simpangan, melainkan gaya rata-ratanya dikali simpangan, yaitu 1/2 F x. Kalau F = k x disubstitusikan ke situ, hasilnya menjadi 1/2 k x kuadrat. Jadi angka 1/2 muncul dari sifat gaya pegas yang meningkat bertahap dari nol.
Kalau simpangan pegas digandakan, energi potensialnya jadi berapa kali?
Menjadi empat kali lipat, bukan dua kali, karena simpangan dikuadratkan dalam rumus Ep = 1/2 k x kuadrat. Contohnya pegas 200 N/m yang ditarik 0,10 m menyimpan 1 J, tetapi kalau ditarik 0,20 m simpanannya menjadi 4 J. Dengan pola yang sama, simpangan tiga kali lipat menghasilkan energi sembilan kali lipat.
Apa hubungan energi potensial dengan hukum kekekalan energi mekanik?
Energi mekanik adalah jumlah energi kinetik dan energi potensial, ditulis Em = Ek + Ep. Selama hanya gaya konservatif seperti gravitasi dan gaya pegas yang bekerja, jadi tanpa gesekan, nilai Em tetap sepanjang gerakan sehingga berlaku Ek1 + Ep1 = Ek2 + Ep2. Persamaan ini memungkinkanmu mencari kelajuan di suatu titik tanpa perlu menghitung percepatan maupun waktu tempuh.
Apakah materi energi potensial diujikan di UTBK dan TKA?
UTBK-SNBT terdiri atas Tes Potensi Skolastik dan Tes Literasi, sehingga tidak ada subtes Fisika tersendiri, tetapi kemampuan berhitung dan menalar kuantitatif yang dilatih lewat soal energi tetap terpakai. Fisika sendiri tercantum sebagai salah satu mata pelajaran pilihan pada Tes Kemampuan Akademik, dan usaha serta energi termasuk cakupan mata pelajaran Fisika Fase F untuk SMA dan MA.
Ditulis oleh
Tim Redaksi Target Lulus
Tim penyusun konten Target Lulus. Seluruh info seleksi dirujuk ke pengumuman resmi BKN, KemenPAN-RB, SNPMB, dan instansi terkait dengan tautan sumber di setiap artikel.
Tim Redaksi Target Lulus menyusun rangkuman materi, bank soal, dan panduan seleksi berdasarkan kisi-kisi serta peraturan resmi. Setiap klaim jadwal dan persyaratan selalu ditautkan ke sumber resminya.
Diawasi oleh Ahmad Thariq Syauqi, penanggung jawab redaksi Target Lulus. Profil dan kredensial lengkap ada di halaman Tentang.


