Materi UTBK: Daftar Subtes, Bobot, dan Cara Belajarnya
Materi UTBK sekarang tidak lagi menguji hafalan mata pelajaran seperti dulu. Sejak SNBT 2023, ujian ini berisi Tes Potensi Skolastik, Tes Literasi Bahasa Indonesia dan Inggris, serta Penalaran Matematika, totalnya 160 soal dalam 195 menit. Artikel ini merinci tiap subtes lengkap dengan jumlah soal, alokasi waktu, dan cara belajar yang tepat supaya persiapanmu lebih terarah.

Materi UTBK yang diujikan tahun ini bukan sekumpulan mata pelajaran yang harus dihafal semalam sebelum ujian, melainkan tiga kelompok tes yang mengukur cara kamu bernalar, memahami bacaan, dan mengolah angka: Tes Potensi Skolastik (TPS), Tes Literasi, dan Penalaran Matematika. Total ada 160 soal yang dikerjakan berurutan dalam 195 menit tanpa jeda istirahat, jadi stamina dan strategi waktu sama pentingnya dengan penguasaan materi. Kalau kamu masih membayangkan UTBK isinya soal Fisika, Kimia, atau Sejarah terpisah seperti ujian masuk zaman dulu, artikel ini akan meluruskan gambaran itu sekaligus membedah tiap subtes satu per satu supaya kamu tahu persis apa yang harus dipelajari.
Materi UTBK yang Diujikan Sekarang Ini Apa Saja
Berdasarkan kerangka acuan resmi yang dipublikasikan SNPMB, materi UTBK-SNBT terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah Tes Potensi Skolastik (TPS) yang berisi empat subtes, yaitu Penalaran Umum, Pengetahuan dan Pemahaman Umum, Pemahaman Bacaan dan Menulis, serta Pengetahuan Kuantitatif. Kelompok kedua adalah Tes Literasi yang mencakup Literasi dalam Bahasa Indonesia, Literasi dalam Bahasa Inggris, dan Penalaran Matematika. Kalau kamu belum familier dengan istilah-istilah ini, ada baiknya baca dulu penjelasan dasar tentang apa itu UTBK dan apa itu SNBT, supaya konteksnya lebih jelas sebelum masuk ke detail tiap subtes.
Semua subtes ini dikerjakan dalam satu sesi ujian berbasis komputer, alias Ujian Tulis Berbasis Komputer, dan setiap peserta hanya boleh mengikutinya satu kali dalam satu tahun seleksi. Tidak ada sesi susulan atau kesempatan mengulang kalau kamu merasa hasilnya kurang maksimal, jadi persiapan yang matang jauh lebih penting daripada berharap ada kesempatan kedua.
Kenapa Materi UTBK Bukan Lagi TKA Mata Pelajaran Seperti Dulu
Sejak SNBT 2023, ujian masuk perguruan tinggi negeri tidak lagi memakai Tes Kompetensi Akademik (TKA) per mata pelajaran, seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, atau Geografi, yang dulu diujikan terpisah untuk jalur Saintek dan Soshum. Perubahan ini bertujuan mengurangi beban hafalan dan menggeser fokus ujian ke kemampuan bernalar, memahami bacaan, dan mengolah informasi kuantitatif, kemampuan yang dianggap lebih relevan untuk memprediksi keberhasilan studi di perguruan tinggi dibanding sekadar mengingat rumus atau tanggal peristiwa sejarah.
Sebagai gambaran, UTBK sebelum 2023 memang masih memuat TKA Saintek atau Soshum sesuai jalur yang dipilih peserta, sehingga peserta jalur Saintek mengerjakan soal Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika lanjutan, sedangkan peserta jalur Soshum mengerjakan Ekonomi, Sosiologi, Geografi, dan Sejarah. Sejak materi disederhanakan, pembedaan jalur seperti itu dihapus dan semua peserta mengerjakan materi yang sama, terlepas dari program studi Saintek, Soshum, atau campuran yang dituju. Dampaknya, kamu tidak perlu lagi memilih fokus belajar berdasarkan rumpun ilmu, tapi cukup menguasai tujuh subtes yang sama untuk semua pilihan program studi.
Sampai artikel ini disusun, kerangka materi UTBK-SNBT 2026 di atas masih berlaku, dan SNPMB belum merilis pengumuman resmi mengenai perubahan materi untuk tahun ujian berikutnya. Kebijakan semacam ini memang berpotensi disesuaikan tiap tahun, jadi jangan jadikan artikel mana pun, termasuk artikel ini, sebagai satu-satunya rujukan. Selalu cek ulang ke laman resmi snpmb.id menjelang periode pendaftaran, terutama kalau kamu membaca artikel ini beberapa bulan setelah tanggal publikasinya.
Rincian Subtes Tes Potensi Skolastik (TPS) beserta Jumlah Soal dan Waktu
TPS adalah kelompok tes terbesar dalam UTBK, terdiri dari empat subtes dengan total 90 soal yang dikerjakan dalam 90 menit. Tabel berikut merangkum jumlah soal dan alokasi waktu tiap subtes berdasarkan kerangka acuan resmi SNPMB.
| Subtes | Jumlah Soal | Alokasi Waktu |
|---|---|---|
| Penalaran Induktif | 10 soal | 10 menit |
| Penalaran Deduktif | 10 soal | 10 menit |
| Penalaran Kuantitatif | 10 soal | 10 menit |
| Pengetahuan dan Pemahaman Umum | 20 soal | 15 menit |
| Pemahaman Bacaan dan Menulis | 20 soal | 25 menit |
| Pengetahuan Kuantitatif | 20 soal | 20 menit |
| Total TPS | 90 soal | 90 menit |
Perhatikan bahwa subtes Penalaran Umum sebenarnya terdiri dari tiga bagian yang berurutan, yaitu Penalaran Induktif, Deduktif, dan Kuantitatif, masing-masing 10 soal dalam 10 menit, sehingga totalnya 30 soal dalam 30 menit untuk satu subtes ini saja. Ini sering bikin peserta kaget karena mengira Penalaran Umum cuma satu blok soal pendek, padahal porsinya paling besar di antara subtes TPS lainnya.
Rincian Subtes Tes Literasi dan Penalaran Matematika
Kelompok kedua, Tes Literasi, berisi tiga subtes dengan total 70 soal dalam 105 menit. Meskipun jumlah soalnya lebih sedikit dibanding TPS, waktu pengerjaannya justru lebih panjang karena banyak soal di sini berbentuk teks bacaan panjang atau kasus matematis yang butuh waktu membaca dan menganalisis.
| Subtes | Jumlah Soal | Alokasi Waktu |
|---|---|---|
| Literasi dalam Bahasa Indonesia | 30 soal | 42,5 menit |
| Literasi dalam Bahasa Inggris | 20 soal | 20 menit |
| Penalaran Matematika | 20 soal | 42,5 menit |
| Total Tes Literasi | 70 soal | 105 menit |
Kalau TPS dan Tes Literasi digabung, total keseluruhan materi UTBK adalah 160 soal yang dikerjakan dalam 195 menit, atau 3 jam 15 menit, tanpa waktu istirahat di tengah sesi. Karena tidak ada jeda, banyak siswa menyiapkan sarapan yang cukup dan berlatih duduk fokus dalam waktu lama sebagai bagian dari persiapan fisik, bukan cuma persiapan materi. Kalau kamu ingin melihat gambaran bentuk soal sungguhan dari tiap subtes, coba pelajari kumpulan contoh soal UTBK supaya terbiasa dengan pola pertanyaannya.
Ringkasnya, materi UTBK terdiri dari tujuh subtes yang terbagi dalam dua kelompok besar, TPS (90 soal, 90 menit) dan Tes Literasi (70 soal, 105 menit), dengan total 160 soal dalam 195 menit. Tidak ada lagi ujian mata pelajaran terpisah seperti Fisika, Kimia, atau Sejarah.
Cara Belajar Penalaran Umum: Induktif, Deduktif, dan Kuantitatif
Penalaran Umum menurut kerangka acuan resmi SNPMB mengukur kemampuan kognitif yang dipelajari dan berkembang melalui proses belajar dan pengalaman, dan terbagi menjadi tiga cara bernalar yang berbeda. Penalaran induktif menuntutmu mengamati fakta atau kejadian untuk menemukan prinsip atau aturan umum, biasanya berupa soal deret angka, pola gambar, atau kesimpulan dari beberapa pernyataan. Penalaran deduktif justru kebalikannya, kamu diberi premis dan prinsip umum lalu diminta menarik kesimpulan logis yang pasti benar kalau premisnya benar. Penalaran kuantitatif melibatkan operasi aritmetika dasar yang disajikan dalam konteks soal cerita singkat.
Cara paling efektif melatih tiga jenis penalaran ini bukan menghafal rumus, tapi memperbanyak jam terbang mengerjakan variasi soal sambil membiasakan diri membaca instruksi dengan teliti. Untuk induktif, latih diri mengenali pola dari contoh sesedikit mungkin. Untuk deduktif, biasakan menuliskan premis dalam bentuk simbol sederhana, misalnya semua A adalah B, supaya tidak terjebak logika yang terasa benar padahal salah. Untuk kuantitatif, kuasai operasi hitung dasar sampai reflek, karena waktunya cuma 10 menit untuk 10 soal, artinya kurang dari semenit per soal.
Kesalahan yang paling sering terjadi di subtes ini adalah terburu-buru membaca soal deduktif lalu langsung menjawab berdasarkan pengetahuan umum di luar premis yang diberikan, padahal soal deduktif harus dijawab murni berdasarkan premis di dalam soal, bukan fakta yang kamu tahu di dunia nyata. Membiasakan diri berpegang ketat pada premis tertulis akan menyelamatkan banyak poin yang biasanya hilang bukan karena tidak paham logika, tapi karena terlalu percaya diri dengan pengetahuan luar.
Cara Belajar Pengetahuan dan Pemahaman Umum (PPU)
Subtes ini mengukur kemampuan kognitif melalui pengetahuan leksikal, informasi, dan pengetahuan umum, menurut definisi resmi dari SNPMB. Dalam praktiknya, soal PPU sering muncul dalam bentuk teks pendek yang menguji pemahaman kosakata, sinonim, antonim, hubungan makna kata, serta kemampuan menangkap informasi tersirat dan tersurat dari sebuah bacaan singkat. Kamu bisa cek pembahasan yang lebih terfokus di artikel khusus PPU UTBK kalau ingin latihan soal yang lebih terarah.
Karena sifatnya lebih ke pemahaman bahasa dan wawasan umum, cara belajar paling relevan adalah memperbanyak membaca teks nonfiksi dari berbagai topik, koran, artikel populer, sampai jurnal ringan, sambil membiasakan diri menebak makna kata dari konteks kalimat. Dengan 20 soal dalam 15 menit, kecepatan membaca dan memahami inti bacaan jauh lebih menentukan dibanding kemampuan menghafal daftar kosakata sulit satu per satu.
Cara Belajar Pemahaman Bacaan dan Menulis
Subtes ini menguji tiga aspek utama, yaitu pemilihan gagasan, penataan gagasan, dan perbaikan gagasan dalam sebuah teks. Kamu akan disodori paragraf yang perlu diperbaiki strukturnya, dipilih kalimat utamanya, atau disusun ulang urutannya supaya alurnya logis dan efektif. Ini bukan tes tata bahasa hafalan, melainkan tes kepekaan terhadap struktur tulisan yang baik.
Latihan yang paling membantu untuk subtes ini adalah membiasakan diri menyunting tulisan sendiri atau tulisan orang lain, bukan sekadar membaca pasif. Coba ambil satu paragraf acak, lalu tanyakan pada diri sendiri, kalimat mana yang jadi gagasan utama, urutan mana yang paling logis, dan kalimat mana yang sebenarnya tidak perlu ada. Dengan 20 soal dalam 25 menit, kamu punya waktu sekitar satu menit lima belas detik per soal, cukup untuk membaca teks pendek dengan saksama asal tidak terburu-buru di awal.
Cara Belajar Pengetahuan Kuantitatif
Berbeda dari penalaran kuantitatif di subtes Penalaran Umum, Pengetahuan Kuantitatif menurut kerangka acuan resmi mencakup materi bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, analisis data, serta peluang. Subtes ini paling dekat dengan pelajaran Matematika di sekolah, tapi tetap disajikan dalam bentuk soal aplikatif, bukan soal hitung murni yang panjang.
Karena cakupannya cukup luas, cara belajar paling efisien adalah memetakan dulu topik mana yang paling sering muncul, biasanya aljabar dasar, statistika deskriptif seperti rata-rata, median, dan modus, serta peluang sederhana, lalu memperdalam topik itu lebih dulu sebelum masuk ke geometri yang butuh visualisasi. Kerjakan soal dengan target waktu, karena alokasinya 20 soal dalam 20 menit, rata-rata satu menit per soal, jadi kamu perlu terbiasa menghitung cepat tanpa kalkulator.
Cara Belajar Literasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Dua subtes literasi ini punya tujuan yang sama, yaitu mengukur kemampuan literasi ilmu pengetahuan dalam teks, hanya beda bahasa pengantarnya. Literasi Bahasa Indonesia diujikan dalam 30 soal selama 42,5 menit dengan konteks teks yang beragam, mulai dari sains dan teknologi, sosial humaniora, sampai teks personal. Literasi Bahasa Inggris diujikan dalam 20 soal selama 20 menit dengan pendekatan serupa tapi berbahasa Inggris. Keduanya menuntutmu menemukan, memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dari teks, bukan sekadar menerjemahkan kata per kata.
Untuk Literasi Bahasa Indonesia, perbanyak membaca artikel sains populer dan opini yang membahas isu terkini, lalu latih diri merangkum inti argumen dalam satu atau dua kalimat. Untuk Literasi Bahasa Inggris, kamu tidak perlu menguasai tata bahasa tingkat lanjut, tapi perlu kosakata akademik dasar dan kebiasaan membaca artikel berbahasa Inggris secara rutin supaya tidak kaget dengan struktur kalimat yang lebih panjang saat ujian sungguhan.
Satu kebiasaan yang cukup membantu adalah menandai kata kunci di tiap paragraf sebelum melihat pertanyaan, karena soal literasi sering menanyakan hubungan antar-paragraf atau maksud tersirat penulis, bukan sekadar fakta yang tertulis eksplisit. Dengan menandai kata kunci lebih dulu, kamu tidak perlu membaca ulang seluruh teks dari awal setiap kali menjawab satu soal, sehingga alokasi waktu 42,5 menit untuk 30 soal terasa lebih longgar.
Cara Belajar Penalaran Matematika
Penalaran Matematika adalah subtes dengan porsi waktu terpanjang bersama Literasi Bahasa Indonesia, yaitu 42,5 menit untuk 20 soal. Menurut definisi resmi, subtes ini mengukur kemampuan individu untuk mengevaluasi situasi, menarik kesimpulan, dan menggunakan argumen logis, melalui tiga proses kognitif utama: merumuskan masalah secara matematis, menggunakan konsep dan prosedur matematika, serta menafsirkan dan mengevaluasi hasil.
Soal di subtes ini biasanya berbentuk cerita atau kasus kontekstual yang panjang, misalnya data grafik penjualan, skema perjalanan, atau simulasi keuangan sederhana, lalu kamu diminta menarik kesimpulan logis dari data tersebut, bukan sekadar menghitung. Latihan paling efektif adalah membiasakan diri membaca soal cerita matematika sampai tuntas sebelum mulai menghitung, karena kesalahan paling umum bukan salah rumus, tapi salah menafsirkan apa yang sebenarnya ditanyakan.
Tips latihan: kerjakan soal Penalaran Matematika dan Literasi Bahasa Indonesia lebih dulu kalau kamu tipe yang butuh pemanasan dengan soal bacaan panjang, karena dua subtes ini punya alokasi waktu terpanjang, 42,5 menit, dan biasanya paling menguras konsentrasi.
Sistem Penilaian UTBK: Kenapa Tidak Boleh Mengosongkan Jawaban
Penilaian UTBK memakai skema Item Response Theory (IRT), di mana bobot skor tiap soal tidak sama, soal yang lebih sulit dan berhasil dijawab benar oleh lebih sedikit peserta bernilai lebih tinggi dibanding soal yang mudah. Sekretaris SNPMB, Bekti Cahyo Hidayanto, pernah menegaskan bahwa sistem penilaian UTBK tidak memberlakukan nilai minus atau pengurangan skor untuk jawaban yang salah. Jawaban benar dihitung, jawaban salah dan kosong sama-sama tidak mendapat poin, jadi secara matematis tidak ada kerugian mengisi jawaban meski kamu tidak yakin.
Implikasinya sederhana, jangan pernah membiarkan soal kosong hanya karena ragu. Kalau waktu hampir habis dan masih ada soal tersisa, isi saja dengan jawaban yang paling masuk akal berdasarkan eliminasi pilihan, karena peluang benar dari menebak tetap lebih besar daripada nol. Untuk memahami lebih detail bagaimana skor akhir dihitung dan dikonversi menjadi nilai UTBK yang dilihat panitia penerimaan, silakan baca penjelasan lengkap skor UTBK.
Menyusun Jadwal Belajar Materi UTBK Supaya Tidak Kewalahan
Dengan tujuh subtes yang karakternya berbeda-beda, belajar materi UTBK tanpa jadwal biasanya berujung numpuk di akhir dan panik menjelang hari ujian. Cara yang lebih realistis adalah membagi waktu belajar mingguan per kelompok subtes, misalnya dua hari untuk Penalaran Umum, dua hari untuk Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika, dan sisanya untuk dua subtes literasi, lalu rutin diselingi simulasi ujian penuh 195 menit supaya tubuh dan pikiran terbiasa dengan durasinya.
Simulasi ujian penuh ini penting karena banyak siswa yang menguasai materi per subtes tapi kehabisan stamina saat mengerjakan 160 soal berturut-turut tanpa istirahat. Kalau kamu butuh bank soal dan simulasi tryout yang formatnya mendekati UTBK asli untuk latihan rutin, coba manfaatkan panduan tryout UTBK supaya kamu punya gambaran skor sebelum hari H, lalu evaluasi subtes mana yang masih paling lemah dan fokuskan sisa waktu belajar ke sana.
Selain jadwal mingguan, catat juga skor tryout tiap subtes dalam satu tabel sederhana supaya kamu bisa melihat tren naik atau turun dari waktu ke waktu, bukan cuma menilai dari perasaan sudah belajar banyak. Kalau satu subtes stagnan lebih dari dua kali tryout berturut-turut, itu tanda kamu perlu mengganti metode belajar untuk subtes tersebut, misalnya beralih dari membaca teori ke lebih banyak mengerjakan soal dengan pembahasan lengkap.
Patokan kecepatan rata-rata per subtes, dihitung dari alokasi waktu resmi: Penalaran Umum sekitar satu menit per soal, Pengetahuan dan Pemahaman Umum sekitar 45 detik per soal, Pemahaman Bacaan dan Menulis sekitar satu menit lima belas detik per soal, Pengetahuan Kuantitatif sekitar satu menit per soal, Literasi Bahasa Indonesia sekitar satu menit dua puluh lima detik per soal, Literasi Bahasa Inggris sekitar satu menit per soal, dan Penalaran Matematika sekitar dua menit per soal. Kalau saat latihan kamu jauh lebih lambat dari patokan ini, itu tandanya kamu perlu lebih banyak jam terbang, bukan berarti kamu tidak mampu.
Materi UTBK memang terasa banyak di awal, tapi begitu kamu paham polanya, tiap subtes sebenarnya punya karakter yang bisa dilatih secara terpisah. Fokus pada pemahaman konsep dan kecepatan mengerjakan, bukan hafalan mati, dan pastikan kamu selalu mengecek pembaruan materi resmi di snpmb.id menjelang periode pendaftaran tahun berjalan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa saja materi UTBK yang diujikan sekarang?
Materi UTBK terdiri dari Tes Potensi Skolastik (Penalaran Umum, Pengetahuan dan Pemahaman Umum, Pemahaman Bacaan dan Menulis, Pengetahuan Kuantitatif), Tes Literasi Bahasa Indonesia, Tes Literasi Bahasa Inggris, dan Penalaran Matematika. Totalnya ada tujuh subtes dengan 160 soal yang dikerjakan dalam 195 menit.
Apakah UTBK masih menguji mata pelajaran seperti Fisika atau Sejarah?
Tidak. Sejak SNBT 2023, UTBK tidak lagi memakai Tes Kompetensi Akademik per mata pelajaran. Ujian sekarang berfokus pada kemampuan bernalar, literasi membaca, dan pengolahan data kuantitatif, bukan hafalan materi pelajaran tertentu.
Berapa jumlah total soal dan waktu pengerjaan UTBK?
Total ada 160 soal yang dikerjakan dalam 195 menit atau 3 jam 15 menit, tanpa waktu istirahat di tengah sesi. Rinciannya 90 soal dalam 90 menit untuk Tes Potensi Skolastik dan 70 soal dalam 105 menit untuk Tes Literasi.
Apakah materi UTBK 2026 berbeda dari tahun sebelumnya?
Berdasarkan kerangka acuan resmi SNPMB, struktur materi UTBK-SNBT 2026 masih mengikuti pola tujuh subtes yang sama dengan tahun-tahun setelah 2023. Kebijakan bisa saja disesuaikan tiap tahun, jadi selalu cek ulang ke snpmb.id menjelang periode pendaftaran.
Apakah ada nilai minus kalau jawaban UTBK salah?
Tidak ada. Sistem penilaian UTBK memakai skema Item Response Theory yang tidak memberi pengurangan skor untuk jawaban salah. Jawaban salah dan kosong sama-sama bernilai nol, jadi lebih baik mengisi semua soal daripada mengosongkannya.
Berapa kali UTBK-SNBT boleh diikuti?
Berdasarkan ketentuan resmi SNPMB, setiap peserta hanya diperbolehkan mengikuti UTBK satu kali dalam satu tahun seleksi. Tidak ada sesi ujian susulan untuk mengulang skor di tahun yang sama.
Apa bedanya Tes Potensi Skolastik dan Tes Literasi?
Tes Potensi Skolastik mengukur kemampuan bernalar umum dan pengetahuan kuantitatif dasar melalui empat subtes. Tes Literasi lebih fokus pada kemampuan memahami dan mengevaluasi teks panjang dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta kemampuan bernalar matematis dalam konteks kasus nyata.
Di mana bisa mengecek materi UTBK resmi terbaru?
Sumber paling akurat adalah laman resmi SNPMB di snpmb.id, khususnya halaman Framework UTBK dan Informasi Umum UTBK-SNBT. Sebaiknya jangan mengandalkan artikel pihak ketiga saja untuk keputusan penting terkait materi ujian.
Ditulis oleh
Tim Redaksi Target Lulus
Tim penyusun konten Target Lulus. Seluruh info seleksi dirujuk ke pengumuman resmi BKN, KemenPAN-RB, SNPMB, dan instansi terkait dengan tautan sumber di setiap artikel.
Tim Redaksi Target Lulus menyusun rangkuman materi, bank soal, dan panduan seleksi berdasarkan kisi-kisi serta peraturan resmi. Setiap klaim jadwal dan persyaratan selalu ditautkan ke sumber resminya.


