Contoh Soal Energi Kinetik dan Pembahasannya: 14 Nomor dari Rumus Dasar sampai Energi Rotasi
Contoh soal energi kinetik lengkap dengan pembahasan langkah demi langkah, 14 nomor bertingkat dari substitusi rumus Ek = 1/2 m v² sampai energi kinetik rotasi. Kamu akan menemukan rumus dan analisis dimensinya, tabel konversi satuan energi, teorema usaha-energi, penerapan pada gerak jatuh bebas dan bidang miring kasar, serta hubungan energi kinetik dengan momentum. Semua hitungan memakai g = 10 m/s².

Contoh soal energi kinetik hampir selalu berangkat dari rumus yang sama, yaitu Ek = 1/2 m v², dan yang membedakan tingkat kesulitannya cuma seberapa jauh kamu harus mencari m atau v terlebih dahulu. Di artikel ini kamu dapat 14 soal berpembahasan yang disusun bertingkat, dari substitusi angka langsung sampai gabungan teorema usaha-energi, bidang miring kasar, hubungan dengan momentum, dan energi kinetik rotasi.
Materinya relevan untuk beberapa medan sekaligus. Pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA, Fisika terdaftar sebagai salah satu mata pelajaran pilihan di kerangka asesmen yang diterbitkan Pusmendik. Sementara itu laman Informasi Umum UTBK-SNBT di snpmb.id mencantumkan materi tes berupa Tes Potensi Skolastik dan Tes Literasi, jadi Fisika tidak berdiri sebagai subtes tersendiri di UTBK. Artinya soal energi kinetik paling sering kamu temui di ujian sekolah, TKA mata pelajaran pilihan, dan seleksi ujian mandiri PTN. Kalau kamu ingin memastikan daftar subtes resmi UTBK lebih dulu, cek rinciannya di pembahasan materi UTBK.
Rumus Energi Kinetik dan Kesepakatan Angka di Artikel Ini
Energi kinetik adalah energi yang dimiliki sebuah benda karena geraknya. Untuk benda bermassa m yang bergerak dengan kelajuan v, besarnya dihitung dengan Ek = 1/2 m v². Bentuk rumus sesederhana itu membawa tiga konsekuensi yang wajib kamu pegang sebelum menyentuh angka.

Pertama, energi kinetik adalah besaran skalar. Dia tidak punya arah, sehingga nilainya tidak pernah negatif. Benda yang bergerak ke kiri dan benda yang bergerak ke kanan dengan kelajuan sama punya energi kinetik yang sama persis. Kedua, energi kinetik sebanding dengan kuadrat kecepatan, bukan dengan kecepatan itu sendiri. Kalau kelajuan naik dua kali, energi kinetik naik empat kali. Ketiga, rumus itu hanya konsisten kalau massa dinyatakan dalam kilogram dan kecepatan dalam meter per sekon. Massa dalam gram atau kecepatan dalam kilometer per jam harus kamu ubah lebih dulu, dan di situlah paling banyak nilai bocor.
Supaya seluruh hitungan di bawah bisa kamu cek ulang tanpa ambiguitas, artikel ini memakai satu kesepakatan angka: percepatan gravitasi g = 10 m/s² untuk semua soal, tanpa kecuali. Sudut istimewa yang dipakai adalah sin 30° = 0,5 serta sin 37° = 0,6 dengan cos 37° = 0,8. Gesekan udara diabaikan kecuali soal menyebut sebaliknya. Kalau gurumu memakai g = 9,8 m/s², angka jawabannya bergeser sedikit, tetapi seluruh langkah pengerjaannya tetap sama. Buat kamu yang berencana mengambil Fisika sebagai mata pelajaran pilihan, pahami dulu format asesmennya lewat penjelasan ujian TKA.
Inti yang perlu kamu bawa: energi kinetik itu skalar, satuannya joule, dan besarnya sebanding dengan kuadrat kecepatan. Tiga sifat ini yang menjelaskan kenapa menggandakan kelajuan sebuah mobil membuat energi yang harus diserap saat pengereman melonjak empat kali lipat, bukan dua kali.
Satuan Energi Kinetik dan Analisis Dimensinya
Satuan energi kinetik dalam Sistem Internasional adalah joule (J). Satu joule setara dengan 1 newton meter, atau kalau diurai sampai satuan dasar, 1 kg·m²/s². Kamu bisa membuktikannya lewat analisis dimensi. Dimensi massa adalah M dan dimensi kecepatan adalah L T⁻¹, sehingga dimensi energi kinetik menjadi M (L T⁻¹)² = M L² T⁻². Angka 1/2 tidak berdimensi, jadi dia tidak ikut hitungan.
Hasil M L² T⁻² itu identik dengan dimensi usaha dan dimensi energi potensial gravitasi. Kesamaan dimensi inilah yang menjadi izin matematis untuk menjumlahkan atau mengurangkan ketiganya di satu persamaan, misalnya pada teorema usaha-energi dan pada hukum kekekalan energi mekanik. Kalau suatu saat hasil hitunganmu menghasilkan dimensi yang berbeda, hampir pasti ada langkah yang tertukar dan kamu perlu mundur satu baris.
| Besaran | Lambang | Rumus | Satuan SI | Dimensi |
|---|---|---|---|---|
| Massa | m | besaran pokok | kilogram (kg) | M |
| Kecepatan | v | perpindahan per waktu | meter per sekon (m/s) | L T⁻¹ |
| Energi kinetik | Ek | 1/2 m v² | joule (J) | M L² T⁻² |
| Usaha | W | F s cos θ | joule (J) | M L² T⁻² |
| Energi potensial gravitasi | Ep | m g h | joule (J) | M L² T⁻² |
| Momentum | p | m v | kg·m/s | M L T⁻¹ |
| Momen inersia | I | jumlah m r² | kg·m² | M L² |
| Energi kinetik rotasi | Ek rotasi | 1/2 I ω² | joule (J) | M L² T⁻² |
Tabel Konversi Satuan Energi yang Perlu Kamu Kenali
Soal ujian kadang menyajikan energi dalam satuan non-SI, terutama kilowatt jam untuk konteks kelistrikan dan elektronvolt untuk konteks fisika modern. Angka pengali di tabel berikut dikutip dari tabel faktor konversi resmi NIST Special Publication 811 Appendix B.9 dan dari nilai CODATA untuk elektronvolt, jadi kamu bisa memakainya tanpa ragu.
| Satuan | Setara dalam joule | Kapan biasanya muncul |
|---|---|---|
| 1 joule (J) | 1 J = 1 N·m = 1 kg·m²/s² | satuan baku semua soal energi kinetik |
| 1 kilojoule (kJ) | 1 x 10³ J | soal kendaraan atau benda bermassa besar |
| 1 kilowatt jam (kW·h) | 3,6 x 10⁶ J | soal tagihan listrik dan konversi daya |
| 1 kilokalori termokimia (kkal) | 4,184 x 10³ J | soal energi makanan dan kalor |
| 1 kilokalori IT | 4,1868 x 10³ J | tabel termodinamika versi internasional |
| 1 erg | 1 x 10⁻⁷ J | literatur lama bersistem CGS |
| 1 elektronvolt (eV) | 1,602176634 x 10⁻¹⁹ J | energi kinetik elektron dan fisika atom |
Untuk soal setingkat SMA, tiga baris pertama yang paling sering terpakai. Dua baris terakhir baru muncul kalau soal menyeret konteks fisika atom, misalnya menanyakan energi kinetik elektron dalam elektronvolt lalu meminta hasil akhirnya dinyatakan dalam joule.
Teorema Usaha-Energi, Kunci Hampir Semua Soal Menengah
Teorema usaha-energi menyatakan bahwa usaha total yang dilakukan pada sebuah benda sama dengan perubahan energi kinetiknya, ditulis W total = Ek akhir dikurangi Ek awal. Karena usaha oleh gaya konstan dihitung sebagai W = F s cos θ, dengan θ adalah sudut antara arah gaya dan arah perpindahan, teorema ini memberi kamu jalan pintas dari besaran gaya langsung menuju kecepatan, tanpa perlu menghitung percepatan dan waktu satu per satu.
Tanda usaha menentukan segalanya. Gaya yang searah perpindahan menghasilkan usaha positif dan menaikkan energi kinetik. Gaya yang berlawanan arah dengan perpindahan, seperti gaya gesek atau gaya pengereman, menghasilkan usaha negatif dan menurunkan energi kinetik. Gaya yang tegak lurus perpindahan, seperti gaya normal pada bidang datar, menghasilkan usaha nol karena cos 90° = 0.
Pola pengerjaan yang aman selalu sama: tulis dulu daftar semua gaya yang bekerja, hitung usaha masing-masing lengkap dengan tandanya, jumlahkan, lalu samakan hasilnya dengan selisih energi kinetik. Dengan pola ini, soal bidang miring kasar yang kelihatan berlapis berubah menjadi penjumlahan dua atau tiga suku saja.
Trik hemat waktu: kalau benda berangkat dari keadaan diam, energi kinetik awalnya nol, sehingga usaha total langsung sama dengan energi kinetik akhir. Banyak soal pilihan ganda selesai dalam satu baris kalau kamu menyadari hal ini sejak membaca kalimat pertama.
Energi Kinetik pada Gerak Jatuh Bebas
Pada gerak jatuh bebas, benda dilepas tanpa kecepatan awal dan hanya dipengaruhi gravitasi. Energi potensial gravitasi yang hilang berubah seluruhnya menjadi energi kinetik, sehingga setelah turun sejauh h berlaku Ek = m g h. Karena energi kinetik juga sama dengan 1/2 m v², kamu bisa menyamakan keduanya dan mendapat v = akar dari (2 g h).

Perhatikan bahwa massa lenyap dari persamaan kecepatan itu. Kelereng dan bola bowling yang dilepas dari ketinggian sama akan menyentuh tanah dengan kelajuan sama, meski energi kinetik keduanya jauh berbeda. Soal sering menguji pemahaman ini dengan meminta kamu membandingkan dua benda berbeda massa yang jatuh dari ketinggian identik.
Untuk titik di tengah lintasan, pakai selisih ketinggian. Kalau benda dilepas dari ketinggian H lalu ditanya energi kinetiknya saat berada di ketinggian y, jarak yang sudah ditempuh adalah H dikurangi y, sehingga Ek = m g (H - y). Sisanya masih tersimpan sebagai energi potensial sebesar m g y. Jumlah keduanya selalu sama dengan m g H, dan itulah cara tercepat mengecek jawabanmu sendiri.
Energi Kinetik pada Bidang Miring
Bidang miring menambahkan satu langkah, yaitu mengubah panjang lintasan menjadi ketinggian. Kalau benda meluncur sepanjang s pada bidang yang membentuk sudut θ terhadap horizontal, ketinggian yang ditempuh adalah h = s sin θ. Setelah ketinggian itu ketemu, perlakuannya persis sama dengan gerak jatuh bebas.

Pada bidang miring licin, seluruh energi potensial berubah menjadi energi kinetik, jadi energi kinetik di dasar bidang sama dengan m g s sin θ. Pada bidang miring kasar, sebagian energi berubah menjadi kalor akibat gesekan. Gaya normal pada bidang miring bernilai N = m g cos θ, sehingga gaya gesek kinetiknya f = μk m g cos θ dan usaha gesek bernilai negatif sebesar f dikali s. Energi kinetik di dasar bidang menjadi m g s sin θ dikurangi μk m g s cos θ.
Kesalahan paling umum di bagian ini ada dua: memakai panjang lintasan s sebagai ketinggian, dan tertukar antara sinus dengan kosinus. Pegangan sederhananya, sinus dipakai untuk komponen sepanjang lintasan yang menarik benda turun, kosinus dipakai untuk komponen yang menekan benda ke permukaan bidang.
Hubungan Energi Kinetik dengan Momentum
Momentum didefinisikan sebagai p = m v, sedangkan energi kinetik Ek = 1/2 m v². Kalau kamu substitusi v = p/m ke rumus energi kinetik, hasilnya Ek = p²/(2m). Dibalik, momentum bisa ditulis p = akar dari (2 m Ek). Dua bentuk turunan ini menghemat banyak waktu di soal tumbukan dan soal perbandingan dua benda.
Konsekuensi yang paling sering diuji begini. Untuk energi kinetik yang sama besar, benda dengan massa lebih besar punya momentum lebih besar, dan perbandingannya mengikuti akar massanya. Sebaliknya untuk momentum yang sama besar, benda dengan massa lebih besar justru punya energi kinetik lebih kecil, karena pada bentuk p²/(2m) massa berada di penyebut. Perbedaan sifat inilah yang membuat momentum dan energi kinetik tidak bisa saling menggantikan, meski keduanya sama-sama bergantung pada m dan v.
Energi Kinetik Rotasi sebagai Pengayaan
Benda yang berputar juga menyimpan energi kinetik, hanya saja peran massa diambil alih momen inersia I dan peran kecepatan diambil alih kecepatan sudut ω, sehingga Ek rotasi = 1/2 I ω². Momen inersia bergantung pada bentuk benda dan letak sumbu putarnya. Silinder pejal terhadap sumbunya bernilai I = 1/2 M R², bola pejal terhadap diameternya I = 2/5 M R², sedangkan cincin tipis atau silinder berongga berdinding tipis bernilai I = M R².
Kalau benda menggelinding tanpa slip, dia bergerak dan berputar sekaligus, jadi energi kinetik totalnya adalah jumlah keduanya: Ek total = 1/2 m v² + 1/2 I ω², dengan hubungan ω = v/R. Untuk silinder pejal, substitusi I dan ω menghasilkan bentuk ringkas Ek total = 3/4 m v². Untuk bola pejal, bentuk ringkasnya menjadi 7/10 m v².
Panduan Mata Pelajaran Fisika Fase F terbitan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan menegaskan bahwa Fisika dipelajari secara terpisah dan lebih mendalam pada kelas XI dan XII, sementara di kelas X materinya masih terintegrasi dalam mata pelajaran IPA bersama Biologi dan Kimia. Jadi kalau kamu masih kelas X dan merasa bagian rotasi ini terasa asing, itu wajar. Kerjakan dulu sepuluh nomor pertama, baru kembali ke bagian ini setelah materi dinamika rotasi diajarkan.
Patokan kecepatan pengerjaan yang realistis: soal energi kinetik tingkat dasar selesai di bawah 45 detik, soal teorema usaha-energi sekitar 90 detik, dan soal bidang miring kasar atau benda menggelinding sekitar dua menit. Kalau waktumu masih jauh di atas patokan itu, hambatannya biasanya di konversi satuan, bukan di konsepnya.
Contoh Soal Energi Kinetik Tingkat Dasar (Nomor 1 sampai 5)
Soal 1. Sebuah bola bermassa 0,5 kg bergerak dengan kelajuan 8 m/s. Berapa energi kinetiknya?
Pembahasan. Substitusi langsung ke Ek = 1/2 m v². Ek = 1/2 x 0,5 x 8² = 1/2 x 0,5 x 64. Hasilnya 16 J. Perhatikan urutan pengerjaannya: kuadratkan kecepatan dulu, baru kalikan dengan massa, baru bagi dua.
Soal 2. Sebuah mobil bermassa 1.200 kg melaju dengan kelajuan 72 km/jam. Hitung energi kinetik mobil tersebut.
Pembahasan. Kecepatan harus diubah ke m/s lebih dulu. 72 km/jam = 72 x 1.000/3.600 = 20 m/s. Sekarang Ek = 1/2 x 1.200 x 20² = 1/2 x 1.200 x 400 = 240.000 J atau 240 kJ. Kalau kamu lupa mengonversi dan langsung memakai angka 72, hasilnya akan meleset lebih dari sepuluh kali lipat.
Soal 3. Sebuah benda bermassa 2 kg mula-mula bergerak dengan kelajuan 3 m/s, lalu dipercepat sampai kelajuannya menjadi 6 m/s. Berapa energi kinetik awal, energi kinetik akhir, dan berapa kali lipat kenaikannya?
Pembahasan. Energi kinetik awal Ek1 = 1/2 x 2 x 3² = 9 J. Energi kinetik akhir Ek2 = 1/2 x 2 x 6² = 36 J. Selisihnya 36 dikurangi 9 sama dengan 27 J, dan perbandingannya 36 dibagi 9 sama dengan 4 kali lipat. Angka empat ini bukan kebetulan: kelajuan naik dua kali, dan karena energi kinetik sebanding dengan kuadrat kecepatan, kenaikannya menjadi 2² = 4 kali.
Soal 4. Sebuah benda bermassa 8 kg memiliki energi kinetik 400 J. Berapa kelajuan benda itu?
Pembahasan. Balik rumusnya menjadi v = akar dari (2 Ek/m). Masukkan angkanya, v = akar dari (2 x 400/8) = akar dari 100 = 10 m/s. Cek balik: 1/2 x 8 x 10² = 400 J, cocok.
Soal 5. Sebuah bola bermassa 250 gram bergerak dengan kelajuan 12 m/s. Hitung energi kinetiknya dalam satuan joule.
Pembahasan. Massa harus dalam kilogram, jadi 250 gram = 0,25 kg. Ek = 1/2 x 0,25 x 12² = 1/2 x 0,25 x 144 = 18 J. Soal semacam ini kelihatan sepele, tetapi gram yang tidak diubah ke kilogram adalah penyebab kesalahan paling sering di bank soal mana pun.
Contoh Soal Energi Kinetik Tingkat Menengah (Nomor 6 sampai 10)
Soal 6. Sebuah balok bermassa 4 kg mula-mula diam di lantai licin. Sebuah gaya horizontal sebesar 12 N bekerja pada balok itu sejauh 6 m. Hitung energi kinetik dan kelajuan balok setelah menempuh jarak tersebut.
Pembahasan. Gaya searah perpindahan, jadi cos θ = 1 dan usaha W = 12 x 6 = 72 J. Karena balok berangkat dari diam, energi kinetik awalnya nol, sehingga energi kinetik akhirnya 72 J. Kelajuannya v = akar dari (2 x 72/4) = akar dari 36 = 6 m/s.
Soal 7. Sebuah peti bermassa 16 kg ditarik dari keadaan diam dengan gaya 50 N yang membentuk sudut 60° terhadap arah horizontal, sejauh 8 m di lantai licin. Hitung energi kinetik dan kelajuan akhir peti.
Pembahasan. Hanya komponen gaya yang searah perpindahan yang melakukan usaha, jadi W = F s cos θ = 50 x 8 x cos 60° = 50 x 8 x 0,5 = 200 J. Gaya berat dan gaya normal tegak lurus perpindahan sehingga usahanya nol, dan lantai licin sehingga tidak ada usaha gesek. Energi kinetik akhir 200 J, dan kelajuannya v = akar dari (2 x 200/16) = akar dari 25 = 5 m/s.
Soal 8. Sebuah mobil bermassa 1.000 kg melaju dengan kelajuan 20 m/s lalu direm sampai berhenti setelah menempuh jarak 50 m. Berapa besar gaya gesek rata-rata yang bekerja pada mobil?
Pembahasan. Energi kinetik awal 1/2 x 1.000 x 20² = 200.000 J, dan energi kinetik akhir nol karena mobil berhenti. Perubahan energi kinetiknya berarti -200.000 J. Usaha gaya gesek bernilai negatif sebesar f dikali jarak, jadi -f x 50 = -200.000, sehingga f = 4.000 N. Cek dengan kinematika: perlambatan a = 4.000/1.000 = 4 m/s², dan dari v² = v awal² dikurangi 2 a s diperoleh 400 dikurangi 2 x 4 x 50 = 0, artinya mobil memang tepat berhenti di 50 m.
Soal 9. Sebuah benda bermassa 2 kg dijatuhkan tanpa kecepatan awal dari ketinggian 20 m. Berapa energi kinetiknya tepat sebelum menyentuh tanah dan berapa kelajuannya saat itu?
Pembahasan. Seluruh energi potensial berubah menjadi energi kinetik, jadi Ek = m g h = 2 x 10 x 20 = 400 J. Kelajuannya v = akar dari (2 g h) = akar dari (2 x 10 x 20) = akar dari 400 = 20 m/s. Cek balik lewat rumus energi kinetik: 1/2 x 2 x 20² = 400 J, cocok.
Soal 10. Sebuah benda bermassa 1,5 kg dijatuhkan tanpa kecepatan awal dari ketinggian 45 m. Berapa energi kinetik dan energi potensial benda saat berada 25 m di atas tanah?
Pembahasan. Benda sudah turun sejauh 45 dikurangi 25 sama dengan 20 m, jadi energi kinetiknya Ek = m g (H - y) = 1,5 x 10 x 20 = 300 J. Energi potensial yang tersisa Ep = m g y = 1,5 x 10 x 25 = 375 J. Cek kekekalan energi: 300 + 375 = 675 J, dan energi potensial awalnya 1,5 x 10 x 45 = 675 J, cocok. Kelajuan di titik itu v = akar dari (2 x 10 x 20) = 20 m/s.
Contoh Soal Energi Kinetik Tingkat Lanjut (Nomor 11 sampai 14)
Soal 11. Sebuah balok bermassa 3 kg meluncur dari keadaan diam menuruni bidang miring licin sepanjang 10 m dengan sudut kemiringan 30°. Hitung energi kinetik dan kelajuan balok di dasar bidang.
Pembahasan. Ubah panjang lintasan menjadi ketinggian: h = s sin θ = 10 x sin 30° = 10 x 0,5 = 5 m. Karena bidangnya licin, tidak ada energi yang hilang, sehingga Ek = m g h = 3 x 10 x 5 = 150 J. Kelajuannya v = akar dari (2 x 150/3) = akar dari 100 = 10 m/s. Kelajuan ini sama dengan hasil v = akar dari (2 g h), yang menegaskan bahwa massa tidak berpengaruh pada bidang miring licin.
Soal 12. Sebuah balok bermassa 4 kg meluncur dari keadaan diam menuruni bidang miring kasar sepanjang 5 m dengan sudut kemiringan 37°. Koefisien gesek kinetik antara balok dan bidang adalah 0,3. Hitung energi kinetik dan kelajuan balok di dasar bidang.
Pembahasan. Kerjakan bertahap. Ketinggian yang ditempuh h = 5 x sin 37° = 5 x 0,6 = 3 m, sehingga usaha oleh gaya berat W = m g h = 4 x 10 x 3 = 120 J (positif). Gaya normal N = m g cos 37° = 4 x 10 x 0,8 = 32 N, sehingga gaya gesek kinetik f = 0,3 x 32 = 9,6 N dan usaha gesek = -9,6 x 5 = -48 J (negatif). Usaha totalnya 120 dikurangi 48 sama dengan 72 J, jadi energi kinetik di dasar bidang 72 J. Kelajuannya v = akar dari (2 x 72/4) = akar dari 36 = 6 m/s. Bandingkan dengan kasus licin: gesekan di sini menelan 48 J, atau 40 persen dari energi yang tersedia.
Soal 13. Benda A bermassa 2 kg dan benda B bermassa 8 kg bergerak dengan energi kinetik yang sama besar, masing-masing 100 J. Bandingkan momentum keduanya.
Pembahasan. Pakai bentuk turunan p = akar dari (2 m Ek). Untuk benda A, p = akar dari (2 x 2 x 100) = akar dari 400 = 20 kg·m/s. Untuk benda B, p = akar dari (2 x 8 x 100) = akar dari 1.600 = 40 kg·m/s. Perbandingannya 1 banding 2. Cek lewat jalur panjang: kelajuan A adalah akar dari (2 x 100/2) = 10 m/s sehingga momentumnya 2 x 10 = 20 kg·m/s, sedangkan kelajuan B adalah akar dari (2 x 100/8) = 5 m/s sehingga momentumnya 8 x 5 = 40 kg·m/s. Hasilnya sama, dan perbandingan momentumnya persis akar dari perbandingan massanya, yaitu akar 2 banding akar 8.
Soal 14. Sebuah silinder pejal bermassa 3 kg dengan jari-jari 0,2 m menggelinding tanpa slip di lantai datar dengan kelajuan pusat massa 4 m/s. Hitung energi kinetik translasi, energi kinetik rotasi, dan energi kinetik totalnya.
Pembahasan. Momen inersia silinder pejal I = 1/2 M R² = 1/2 x 3 x 0,2² = 1/2 x 3 x 0,04 = 0,06 kg·m². Karena menggelinding tanpa slip, kecepatan sudutnya ω = v/R = 4/0,2 = 20 rad/s. Energi kinetik translasi = 1/2 m v² = 1/2 x 3 x 16 = 24 J. Energi kinetik rotasi = 1/2 I ω² = 1/2 x 0,06 x 400 = 12 J. Totalnya 36 J. Cek dengan bentuk ringkas silinder pejal: Ek total = 3/4 m v² = 0,75 x 3 x 16 = 36 J, cocok. Perhatikan bahwa sepertiga dari energi total tersimpan sebagai gerak rotasi, dan itulah sebabnya silinder menggelinding lebih lambat daripada balok yang meluncur dari ketinggian sama.
Rekap Jawaban, Kesalahan Umum, dan Cara Melatihnya
Berikut rekap seluruh jawaban supaya kamu bisa mengecek pekerjaanmu dengan cepat tanpa menggulir ulang pembahasannya satu per satu.
| Nomor | Tingkat | Yang ditanyakan | Jawaban |
|---|---|---|---|
| 1 | Dasar | Ek bola 0,5 kg pada 8 m/s | 16 J |
| 2 | Dasar | Ek mobil 1.200 kg pada 72 km/jam | 240.000 J (240 kJ) |
| 3 | Dasar | Ek awal, Ek akhir, dan rasionya | 9 J, 36 J, naik 4 kali |
| 4 | Dasar | Kelajuan saat Ek 400 J dan m 8 kg | 10 m/s |
| 5 | Dasar | Ek bola 250 gram pada 12 m/s | 18 J |
| 6 | Menengah | Ek dan v setelah gaya 12 N sejauh 6 m | 72 J dan 6 m/s |
| 7 | Menengah | Ek dan v peti ditarik 50 N pada sudut 60° | 200 J dan 5 m/s |
| 8 | Menengah | Gaya gesek rata-rata saat pengereman | 4.000 N |
| 9 | Menengah | Ek dan v tepat sebelum menyentuh tanah | 400 J dan 20 m/s |
| 10 | Menengah | Ek dan Ep saat berada 25 m di atas tanah | 300 J dan 375 J |
| 11 | Lanjut | Ek dan v di dasar bidang miring licin | 150 J dan 10 m/s |
| 12 | Lanjut | Ek dan v di dasar bidang miring kasar | 72 J dan 6 m/s |
| 13 | Lanjut | Perbandingan momentum pada Ek sama | 20 dan 40 kg·m/s, rasio 1 banding 2 |
| 14 | Lanjut | Ek translasi, rotasi, dan total silinder | 24 J, 12 J, dan 36 J |
Dari pengalaman mengoreksi jawaban, ada empat kesalahan yang paling sering bikin nilai bocor. Pertama, satuan tidak diseragamkan, terutama gram yang tidak diubah ke kilogram dan km/jam yang tidak diubah ke m/s. Kedua, lupa mengkuadratkan kecepatan sehingga jawabannya menjadi setengah m v, bukan setengah m v kuadrat. Ketiga, salah tanda pada usaha gesek; gesekan selalu mengurangi energi kinetik, jadi usahanya wajib bertanda negatif. Keempat, memakai panjang lintasan bidang miring sebagai ketinggian tanpa dikalikan sinus sudut.
Cara melatihnya sederhana tetapi harus konsisten. Kerjakan lima soal dasar sampai kamu bisa menyelesaikannya tanpa menulis rumus lagi, lalu naik ke soal teorema usaha-energi, baru terakhir soal bidang miring kasar dan rotasi. Setelah itu, uji ketahananmu dengan mengerjakan campuran topik dalam kondisi waktu terbatas lewat try out UTBK supaya terbiasa berpindah konteks. Kalau kamu menyiapkan TKA mata pelajaran pilihan, pola soalnya bisa kamu kenali dari kumpulan contoh soal TKA. Untuk latihan lintas materi dan lintas jenis seleksi, mulai saja dari halaman kumpulan contoh soal yang sudah dikelompokkan per topik.
Terakhir, biasakan mengecek jawaban dengan cara kedua. Hasil energi kinetik bisa kamu verifikasi lewat kekekalan energi, hasil kecepatan bisa kamu verifikasi lewat rumus kinematika, dan hasil gaya bisa kamu verifikasi lewat hukum kedua Newton. Kebiasaan mengecek silang inilah yang membedakan skor stabil dengan skor yang naik turun tergantung keberuntungan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa rumus energi kinetik dan apa arti tiap simbolnya?
Rumus energi kinetik adalah Ek = 1/2 m v², dengan Ek adalah energi kinetik dalam joule, m adalah massa benda dalam kilogram, dan v adalah kelajuan benda dalam meter per sekon. Angka 1/2 adalah konstanta tanpa satuan yang muncul dari penurunan rumus lewat teorema usaha-energi. Massa dan kecepatan wajib dalam satuan SI supaya hasilnya langsung keluar dalam joule.
Apa satuan energi kinetik dan bagaimana analisis dimensinya?
Satuan energi kinetik dalam Sistem Internasional adalah joule (J), yang setara dengan 1 newton meter atau 1 kg·m²/s². Analisis dimensinya diperoleh dari M dikali (L T⁻¹) kuadrat, sehingga hasilnya M L² T⁻². Dimensi ini identik dengan dimensi usaha dan energi potensial, itulah sebabnya ketiganya boleh dijumlahkan dalam satu persamaan.
Kenapa energi kinetik tidak pernah bernilai negatif?
Energi kinetik adalah besaran skalar yang bergantung pada kuadrat kecepatan. Karena kuadrat sebuah bilangan selalu bernilai nol atau positif dan massa selalu positif, hasil perkaliannya tidak mungkin negatif. Benda yang bergerak ke arah berlawanan tetap punya energi kinetik positif dengan besar yang sama, dan nilainya baru menjadi nol kalau benda benar-benar diam.
Kalau kecepatan benda dijadikan dua kali lipat, energi kinetiknya jadi berapa kali?
Energi kinetiknya menjadi empat kali lipat, karena Ek sebanding dengan kuadrat kecepatan. Misalnya benda 2 kg pada 3 m/s punya energi kinetik 9 joule, lalu pada 6 m/s energinya menjadi 36 joule. Pola yang sama berlaku untuk kelipatan lain, misalnya kecepatan tiga kali lipat membuat energi kinetik naik sembilan kali.
Bagaimana cara menghitung energi kinetik benda yang jatuh bebas?
Pada gerak jatuh bebas tanpa kecepatan awal, seluruh energi potensial yang hilang berubah menjadi energi kinetik, sehingga Ek = m g h dengan h adalah jarak turun yang sudah ditempuh. Kelajuannya diperoleh dari v sama dengan akar dari 2 g h, dan massa tidak memengaruhi kelajuan itu. Untuk titik di tengah lintasan, pakai selisih ketinggian antara titik awal dan titik yang ditanyakan.
Apa hubungan energi kinetik dengan momentum?
Momentum p sama dengan m v, sedangkan energi kinetik sama dengan 1/2 m v². Dengan substitusi, keduanya terhubung lewat Ek = p²/(2m), atau dibalik menjadi p sama dengan akar dari 2 m Ek. Konsekuensinya, pada energi kinetik yang sama, benda bermassa lebih besar punya momentum lebih besar mengikuti akar perbandingan massanya.
Bagaimana menghitung energi kinetik benda yang menggelinding tanpa slip?
Energi kinetiknya adalah jumlah energi kinetik translasi dan rotasi, yaitu 1/2 m v² ditambah 1/2 I ω², dengan hubungan ω sama dengan v dibagi R. Untuk silinder pejal yang momen inersianya 1/2 M R², bentuk ringkasnya menjadi 3/4 m v². Untuk bola pejal yang momen inersianya 2/5 M R², bentuk ringkasnya menjadi 7/10 m v².
Apakah energi kinetik termasuk materi yang diujikan di UTBK-SNBT?
Laman Informasi Umum UTBK-SNBT di snpmb.id mencantumkan materi tes berupa Tes Potensi Skolastik dan Tes Literasi, jadi Fisika tidak berdiri sebagai subtes tersendiri di UTBK. Energi kinetik justru masuk lewat jalur lain, yaitu TKA dengan Fisika sebagai mata pelajaran pilihan menurut kerangka asesmen Pusmendik, ditambah ujian sekolah dan seleksi jalur mandiri PTN. Untuk kepastian materi dan jadwal tahun berjalan, selalu pantau pengumuman resmi di laman SNPMB.
Ditulis oleh
Tim Redaksi Target Lulus
Tim penyusun konten Target Lulus. Seluruh info seleksi dirujuk ke pengumuman resmi BKN, KemenPAN-RB, SNPMB, dan instansi terkait dengan tautan sumber di setiap artikel.
Tim Redaksi Target Lulus menyusun rangkuman materi, bank soal, dan panduan seleksi berdasarkan kisi-kisi serta peraturan resmi. Setiap klaim jadwal dan persyaratan selalu ditautkan ke sumber resminya.
Diawasi oleh Ahmad Thariq Syauqi, penanggung jawab redaksi Target Lulus. Profil dan kredensial lengkap ada di halaman Tentang.


