TPS UTBK: Empat Subtes, Jumlah Soal, dan Cara Belajarnya
TPS UTBK atau Tes Potensi Skolastik adalah kelompok tes pertama dalam UTBK-SNBT yang mengukur kemampuan bernalar, bukan hafalan pelajaran. Isinya empat subtes, yaitu Penalaran Umum, Pengetahuan dan Pemahaman Umum, Pemahaman Bacaan dan Menulis, serta Pengetahuan Kuantitatif, dengan total 90 soal dalam 90 menit. Artikel ini memetakan komposisi resminya, karakter soalnya, dan cara belajarnya.

TPS UTBK adalah Tes Potensi Skolastik, kelompok tes pertama dalam UTBK-SNBT yang berisi empat subtes dan mengukur kemampuan bernalar, bukan hafalan materi pelajaran. Tim SNPMB menyatakannya terang-terangan di kerangka acuan resmi: TPS bertujuan mengukur kemampuan kognitif yang dipelajari dan berkembang lewat proses belajar serta pengalaman, baik di dalam maupun di luar kelas. Jadi yang dinilai bukan seberapa banyak rumus yang kamu ingat, melainkan seberapa rapi kamu berpikir ketika bertemu masalah yang belum pernah kamu lihat.
Artikel ini sengaja disusun sebagai peta besar. Kamu akan menemukan posisi TPS di dalam struktur ujian, komposisi resmi keempat subtesnya lengkap dengan jumlah soal dan alokasi waktu, karakter soalnya, contoh soal beserta pembahasan singkat, cara belajar yang cocok untuk tes penalaran, kesalahan yang paling sering terjadi, dan strategi mengerjakan saat waktu menipis. Untuk pendalaman per subtes, tautan ke artikel khususnya diselipkan di bagian yang relevan.
Satu catatan sebelum masuk ke angka. Seluruh komposisi di halaman ini mengacu pada ketentuan resmi terakhir yang diterbitkan Tim SNPMB, yaitu kerangka acuan UTBK-SNBT 2026. Panitia menerbitkan kerangka acuan baru setiap tahun dan sudah beberapa kali mengubah struktur tes, jadi jangan menganggap komposisi satu periode otomatis berlaku untuk periode berikutnya. Sebelum menyusun jadwal belajar, buka lagi laman resmi snpmb.id dan pastikan kerangka acuan untuk periode yang akan kamu ikuti sudah terbit.
TPS UTBK Itu Apa dan Apa yang Diukurnya
Tes Potensi Skolastik adalah tes potensi, bukan tes penguasaan mata pelajaran. Kata "skolastik" merujuk pada kemampuan yang terbentuk melalui sekolah dan pengalaman hidup, misalnya kebiasaan membaca, kebiasaan memeriksa alasan sebelum menyimpulkan, dan kebiasaan bermain dengan angka. Kemampuan seperti itu tidak tumbuh dalam semalam, tetapi juga tidak butuh materi kelas 12 yang paling rumit untuk bisa dikerjakan.
Karena sifatnya begitu, TPS memperlakukan semua peserta relatif setara. Anak jurusan IPA dan anak jurusan IPS sama-sama menghadapi soal yang meminta mereka membaca informasi baru, mengurutkan logika, lalu memilih kesimpulan yang paling bisa dipertanggungjawabkan. Inilah alasan panitia memakai TPS untuk memprediksi kemampuan calon mahasiswa menyelesaikan studi di perguruan tinggi negeri dengan baik dan tepat waktu, sebagaimana disebutkan pada tujuan UTBK di laman informasi umum SNPMB.
Praktisnya, TPS menghukum dua kebiasaan yang justru lazim dipelihara saat sekolah, yaitu menghafal jawaban tanpa tahu alasannya dan membaca cepat tanpa benar-benar menangkap maksud teks. Sebaliknya, TPS memberi keuntungan besar kepada peserta yang terbiasa bertanya "kenapa jawabannya begitu" setiap kali menyelesaikan latihan.
Posisi TPS di Dalam Struktur UTBK-SNBT
UTBK-SNBT 2026 terdiri atas dua kelompok tes yang tujuan, cara pengerjaan, dan alokasi waktunya berbeda, yaitu Tes Potensi Skolastik dan Tes Literasi. Total waktu untuk menyelesaikan seluruh rangkaian adalah 195 menit, dan panitia menegaskan tidak ada waktu istirahat ketika tes sedang berlangsung. Itu berarti TPS bukan tes yang berdiri sendiri, melainkan separuh perjalanan yang menentukan kondisi kepalamu saat masuk ke kelompok tes berikutnya.
Berikut struktur lengkapnya menurut kerangka acuan resmi. Kalau kamu ingin melihat gambaran ujiannya secara umum, mulai dari pengertian sampai alur pendaftaran, penjelasannya ada di UTBK adalah, sedangkan daftar seluruh materi ujian dibahas terpisah di materi UTBK.
| Kelompok tes | Subtes | Jumlah soal | Alokasi waktu |
|---|---|---|---|
| Tes Potensi Skolastik | Penalaran Umum | 30 | 30 menit |
| Tes Potensi Skolastik | Pengetahuan dan Pemahaman Umum | 20 | 15 menit |
| Tes Potensi Skolastik | Pemahaman Bacaan dan Menulis | 20 | 25 menit |
| Tes Potensi Skolastik | Pengetahuan Kuantitatif | 20 | 20 menit |
| Tes Literasi | Literasi dalam Bahasa Indonesia | 30 | 42,5 menit |
| Tes Literasi | Literasi dalam Bahasa Inggris | 20 | 20 menit |
| Tes Literasi | Penalaran Matematika | 20 | 42,5 menit |
| Total | 7 subtes | 160 | 195 menit |
Dari tabel itu terlihat bahwa TPS menyumbang 90 soal dari 160 soal dan 90 menit dari 195 menit. Lebih dari separuh jumlah soal ujianmu ada di kelompok ini. Kalau kamu hanya berlatih literasi karena merasa TPS "bisa dikira-kira", kamu sedang mengabaikan bagian terbesar dari ujian.
Ringkasnya: TPS berisi empat subtes, 90 soal, dan 90 menit. Sisanya, 70 soal dalam 105 menit, ada di Tes Literasi. Seluruh rangkaian dikerjakan berturut-turut dalam 195 menit tanpa jeda istirahat.
Rincian Empat Subtes TPS dan Alokasi Waktunya
Empat subtes TPS adalah Penalaran Umum, Pengetahuan dan Pemahaman Umum, Pemahaman Bacaan dan Menulis, serta Pengetahuan Kuantitatif. Khusus Penalaran Umum, panitia memecahnya lagi menjadi tiga bagian dengan alokasi waktu masing-masing, sehingga kamu tidak bisa meminjam waktu dari bagian lain di dalam subtes yang sama.

| Subtes TPS | Jumlah soal | Waktu | Rata-rata per soal | Fokus pengukuran |
|---|---|---|---|---|
| Penalaran Umum: Penalaran Induktif | 10 | 10 menit | 60 detik | menemukan prinsip atau aturan dari kumpulan fakta |
| Penalaran Umum: Penalaran Deduktif | 10 | 10 menit | 60 detik | menarik kesimpulan logis dari premis yang diberikan |
| Penalaran Umum: Penalaran Kuantitatif | 10 | 10 menit | 60 detik | bernalar lewat angka dan operasi aritmetika dasar |
| Pengetahuan dan Pemahaman Umum | 20 | 15 menit | 45 detik | pengetahuan leksikal, informasi, dan pengetahuan umum |
| Pemahaman Bacaan dan Menulis | 20 | 25 menit | 75 detik | pemilihan, penataan, dan perbaikan gagasan |
| Pengetahuan Kuantitatif | 20 | 20 menit | 60 detik | bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, analisis data, peluang |
| Total TPS | 90 | 90 menit | 60 detik | kemampuan kognitif untuk belajar di pendidikan tinggi |
Tempo rata-rata TPS adalah satu menit per soal, tetapi tidak merata. Subtes tercepat adalah Pengetahuan dan Pemahaman Umum dengan 45 detik per soal, sedangkan yang paling longgar adalah Pemahaman Bacaan dan Menulis dengan 75 detik per soal. Latihanmu sebaiknya memakai tempo asli ini, bukan tempo santai.
Penalaran Umum: Tiga Jenis Bernalar dalam Satu Subtes
Penalaran Umum adalah subtes terbesar di TPS dengan 30 soal. Panitia menjelaskan tujuannya sebagai penilaian atas kemampuan seseorang menggunakan prosedur secara terarah dan terkendali untuk memecahkan masalah baru yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebiasaan yang sudah dipelajari sebelumnya. Kalimat itu penting dibaca pelan-pelan, karena di situ letak perbedaan Penalaran Umum dengan ulangan harian di sekolah.

Penalaran induktif meminta kamu mengamati sejumlah fakta atau kejadian, lalu menemukan prinsip yang mendasarinya. Bentuk soalnya bisa berupa deret angka, pola gambar sederhana, atau serangkaian pernyataan yang mengarah ke satu generalisasi. Yang diuji adalah kesabaran melihat hubungan, bukan kecepatan menghitung.
Penalaran deduktif bergerak ke arah sebaliknya. Kamu diberi premis dan prinsip yang sudah diketahui, lalu diminta menarik kesimpulan yang pasti benar. Di sinilah silogisme, implikasi, dan negasi bermain. Jebakan paling sering adalah kesimpulan yang terdengar masuk akal secara pengalaman sehari-hari, padahal tidak dijamin oleh premis yang diberikan.
Penalaran kuantitatif memakai angka sebagai medium bernalar. Operasinya hanya penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, sehingga peserta yang lemah di matematika lanjut tetap punya peluang. Yang menentukan adalah kemampuan membaca hubungan antarkuantitas dengan cepat, misalnya membandingkan dua besaran tanpa perlu menghitung nilai persisnya.
Pengetahuan dan Pemahaman Umum: Subtes Bertempo Paling Cepat
Pengetahuan dan Pemahaman Umum, sering disingkat PPU, berisi 20 soal dalam 15 menit. Tujuannya adalah mengukur kemampuan kognitif melalui pengetahuan leksikal, informasi, dan pengetahuan umum yang dianggap penting dalam lingkup sosial budaya Indonesia, sekaligus mengukur perkembangan bahasa. Formatnya campuran: ada pertanyaan singkat, ada bacaan pendek dengan satu pertanyaan, dan ada bacaan panjang yang menurunkan beberapa pertanyaan sekaligus.
Kombinasi format campuran dengan jatah 45 detik per soal membuat PPU terasa paling menekan. Banyak peserta terjebak membaca bacaan panjang dari awal sampai akhir sebelum melihat pertanyaannya, lalu kehabisan waktu di sepuluh nomor terakhir. Padahal soal PPU umumnya menanyakan hal yang bisa dilokalisasi, misalnya makna kata dalam konteks, hubungan antargagasan, atau simpulan sebuah paragraf.
Karena subtes ini punya karakter dan trik pengerjaan sendiri, pembahasan mendalamnya dipisah. Contoh soal per tipe, pola jawaban, dan tips mengatur waktunya tersedia di artikel khusus PPU UTBK. Anggap halaman ini sebagai peta, dan halaman itu sebagai panduan lapangan untuk satu subtes.
Pemahaman Bacaan dan Menulis: Membaca Dulu, Baru Memperbaiki
Pemahaman Bacaan dan Menulis, atau PBM, berisi 20 soal dalam 25 menit. Subtes ini mengukur kemampuan memahami bacaan sekaligus kemampuan menulis, dengan penekanan pada kemampuan menulis yang didasarkan atas pemahaman terhadap bacaan. Cakupan materinya dibagi tiga: pemilihan gagasan, penataan gagasan, dan perbaikan gagasan.
Pemilihan gagasan mencakup penentuan judul bacaan, pemilihan diksi yang tepat, penentuan gagasan pelengkap kalimat, dan pelengkapan gagasan paragraf. Penataan gagasan menyentuh penentuan kalimat inti, penggabungan kalimat, pemakaian tanda baca, pengurutan kalimat dalam paragraf, penempatan kalimat, sampai pemvariasian kalimat. Perbaikan gagasan berurusan dengan penulisan kata serapan, penulisan huruf, kata gabung, kata sambung, kata mubazir, kalimat ringkas, sampai perbaikan diksi.
Daftar itu kelihatan panjang, tetapi sebenarnya bermuara pada satu keterampilan: mengenali kalimat Indonesia yang efektif. Peserta yang terbiasa menulis dan menyunting tulisannya sendiri biasanya unggul di PBM tanpa perlu menghafal daftar aturan ejaan. Kalau kamu ingin bekal cepat, biasakan membaca satu artikel panjang setiap hari, lalu tandai kalimat yang menurutmu bisa dipangkas tanpa mengubah maknanya.
Pengetahuan Kuantitatif: Matematika yang Menguji Cara Berpikir
Pengetahuan Kuantitatif, atau PK, berisi 20 soal dalam 20 menit. Subtes ini mengukur kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis, analitis, kreatif, dan argumentatif melalui keluasan serta kedalaman pengetahuan matematika. Materi yang diujikan mencakup bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, analisis data, dan peluang, dengan kedalaman yang berkesesuaian dengan kurikulum SMA dan sederajat yang berlaku.
Panitia menulis harapannya secara eksplisit: peserta diharapkan tidak hanya menguasai rumus, tetapi juga mampu memahami pola, menganalisis informasi, menarik kesimpulan, dan mengambil keputusan secara tepat dalam waktu terbatas. Ada penekanan tambahan pada ketelitian, kecepatan, dan ketepatan memilih strategi penyelesaian.
Konsekuensinya, banyak soal PK lebih cepat selesai lewat penalaran ketimbang lewat perhitungan penuh. Membandingkan dua kuantitas, memeriksa cukup atau tidaknya informasi yang diberikan, dan mengestimasi hasil sebelum menghitung adalah keterampilan yang menghemat puluhan detik per soal. Peserta yang selalu menghitung sampai tuntas sering benar tetapi kehabisan waktu, dan skor akhirnya tetap tertahan.
Kenapa Soal TPS Tidak Bisa Dijawab dengan Hafalan
Ada alasan struktural mengapa hafalan gagal di TPS. Soal penalaran dibangun dari konteks yang sengaja dibuat baru, sehingga peserta tidak bisa mencocokkannya dengan bank soal yang pernah dihafal. Yang berulang bukan soalnya, melainkan pola berpikirnya. Peserta yang menghafal jawaban akan tersesat begitu angka, nama, atau konteksnya diganti, sementara peserta yang memahami alasan jawaban akan mengenali pola yang sama meski bajunya berbeda.
Ini juga membedakan TPS dari asesmen berbasis mata pelajaran. Tes Kemampuan Akademik atau TKA yang dikelola Pusmendik, misalnya, memang mengukur kompetensi dasar pada mata pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib, ditambah dua mata pelajaran pilihan. TKA berdiri sebagai asesmen sukarela dengan tujuan memberi informasi capaian akademik murid secara objektif, dan nilainya dipakai lewat jalur yang berbeda dari UTBK. TPS bukan penggantinya dan bukan versi lainnya.
Kalau kamu ingin memahami bagaimana hasil ujian akhirnya diterjemahkan menjadi angka dan dipakai untuk memperebutkan kursi, penjelasannya ada di skor UTBK. Memahami cara skor dibaca membantumu memutuskan subtes mana yang paling layak mendapat jam belajar tambahan.
Contoh Soal TPS dan Pembahasannya
Tiga contoh berikut sengaja dibuat ringkas supaya kamu bisa merasakan karakter soalnya, bukan menghafal jawabannya. Kerjakan dulu, baru baca pembahasannya.
Contoh 1, penalaran deduktif. Premis pertama: semua peserta yang mengumpulkan berkas sebelum tenggat berhak mengikuti sesi wawancara. Premis kedua: Bagas tidak berhak mengikuti sesi wawancara. Kesimpulan yang pasti benar adalah Bagas tidak mengumpulkan berkas sebelum tenggat. Alasannya, kalau Bagas mengumpulkan berkas tepat waktu, premis pertama menjamin dia berhak ikut wawancara, dan itu bertentangan dengan premis kedua. Perhatikan bahwa kesimpulan "Bagas terlambat karena malas" tidak sah, sebab premis tidak menyinggung alasannya sama sekali.
Contoh 2, penalaran induktif. Lanjutkan deret 3, 4, 7, 11, 18, 29, dan seterusnya. Jawabannya 47. Polanya adalah setiap suku merupakan jumlah dua suku sebelumnya: 3 ditambah 4 sama dengan 7, 4 ditambah 7 sama dengan 11, 7 ditambah 11 sama dengan 18, 11 ditambah 18 sama dengan 29, lalu 18 ditambah 29 sama dengan 47. Kunci pengerjaannya adalah menguji satu hipotesis pola pada seluruh suku yang tersedia, bukan pada dua suku pertama saja.
Contoh 3, pengetahuan kuantitatif. Harga sebuah buku dinaikkan 20 persen, kemudian dari harga baru itu diberikan diskon 20 persen. Bagaimana harga akhirnya dibandingkan harga semula? Jawabannya lebih murah 4 persen. Misalkan harga awal 100, maka setelah naik 20 persen menjadi 120, lalu didiskon 20 persen menjadi 96. Soal ini menghukum peserta yang menjawab "sama saja" karena mengira persentase naik dan turun otomatis saling menghapus, padahal keduanya dihitung dari basis yang berbeda.
Kumpulan contoh yang lebih banyak, lengkap per subtes dan disertai pembahasan bertahap, tersedia di halaman soal UTBK. Gunakan halaman itu setelah kamu paham peta besarnya, supaya latihanmu terarah.
Cara Belajar TPS yang Benar-Benar Menaikkan Skor
Belajar untuk tes penalaran berbeda dari belajar untuk ulangan bab. Materi yang bisa dihafal terbatas, jadi yang perlu kamu bangun adalah kebiasaan berpikir. Empat langkah berikut terbukti masuk akal secara teknis karena langsung menyerang karakter soal TPS.
Pertama, biasakan menuliskan alasan jawaban dalam satu kalimat setiap selesai mengerjakan soal, termasuk soal yang kamu jawab benar. Kalau alasannya tidak bisa kamu tulis, berarti kamu menebak dengan beruntung, dan keberuntungan itu tidak akan berulang di ruang ujian.
Kedua, latihan per subtes dengan timer sesuai alokasi resmi. Kerjakan 20 soal PPU dalam 15 menit, bukan dalam 30 menit sambil rebahan. Tekanan waktu adalah bagian dari soal, dan kemampuan bertahan dalam tekanan itu hanya terbentuk kalau dilatih dalam kondisi yang mirip.
Ketiga, bedah kesalahan berdasarkan kategorinya, bukan berdasarkan jumlahnya. Pisahkan salah karena salah baca soal, salah karena konsepnya memang belum dikuasai, dan salah karena kehabisan waktu. Tiga jenis kesalahan itu butuh obat yang berbeda, dan mencampurnya membuat kamu memperbaiki hal yang salah.
Keempat, jalani simulasi utuh secara berkala supaya kamu terbiasa dengan durasi 195 menit tanpa istirahat. Cara membaca hasil simulasi supaya benar-benar berguna, termasuk cara menentukan apa yang harus diperbaiki setelahnya, dibahas di try out UTBK. Fitur bank soal dan tryout di Target Lulus bisa kamu pakai untuk menjalankan siklus latihan ini, terutama untuk mencatat pola kesalahan yang berulang.
Kalau waktu belajarmu terbatas, dahulukan subtes dengan tempo tercepat. Menaikkan kecepatan di Pengetahuan dan Pemahaman Umum yang hanya memberi 45 detik per soal biasanya menghasilkan tambahan jawaban benar lebih banyak daripada memoles subtes yang sudah kamu kuasai.
Kesalahan Umum Peserta saat Menghadapi TPS
Pola kesalahan di TPS cenderung berulang dari tahun ke tahun. Tabel berikut merangkum yang paling sering terjadi beserta perbaikan yang bisa langsung kamu terapkan di sesi latihan berikutnya.
| Kesalahan | Akibatnya | Yang sebaiknya kamu lakukan |
|---|---|---|
| Menghafal tipe soal tanpa memahami alasan jawabannya | Buntu begitu konteks soal diganti | Tulis alasan jawaban dalam satu kalimat setiap selesai satu soal |
| Membaca seluruh bacaan panjang sebelum melihat pertanyaan | Kehabisan waktu di nomor akhir PPU dan PBM | Baca pertanyaannya dulu, lalu cari bagian teks yang relevan |
| Bertahan lama di satu soal sulit | Soal mudah di nomor berikutnya tidak sempat dikerjakan | Batasi satu soal maksimal dua kali tempo normalnya, lalu lanjut |
| Menghindari subtes yang dirasa lemah | Jarak skor antarsubtes makin lebar | Beri porsi latihan lebih besar justru pada subtes terlemah |
| Berlatih tanpa timer | Kaget dengan tempo asli saat hari ujian | Pakai alokasi waktu resmi di setiap sesi latihan |
| Menilai kemajuan hanya dari jumlah jawaban benar | Jenis kesalahan yang berulang tidak pernah ketahuan | Catat kategori kesalahan, bukan sekadar skornya |
Satu kesalahan tambahan yang jarang disadari adalah menyiapkan diri terlalu dekat dengan hari ujian. Peserta hanya diperbolehkan mengikuti UTBK satu kali, dan sistem yang menentukan pusat serta jadwal tesmu setelah kamu memilih kota atau wilayah. Kamu tidak bisa memilih tanggal yang paling nyaman, jadi kesiapan harus dibangun jauh sebelumnya.
Strategi Mengerjakan TPS ketika Waktu Menipis
Strategi terbaik saat waktu menipis dimulai jauh sebelum waktu itu menipis, yaitu dari cara kamu memulai setiap subtes. Lakukan satu putaran cepat untuk memungut soal yang bisa kamu selesaikan di bawah tempo rata-rata, baru kembali ke soal yang menuntut perhitungan atau pembacaan lebih panjang. Urutan nomor bukan urutan kesulitan, jadi tidak ada alasan mengerjakannya berurutan.

Kedua, sadari bahwa alokasi waktu dipatok per subtes. Waktu yang tersisa di Pengetahuan Kuantitatif tidak bisa kamu pindahkan ke Penalaran Umum. Karena itu, target realistis dibuat per subtes, bukan untuk keseluruhan tes. Kalau di menit kesepuluh PPU kamu baru mengerjakan delapan soal, itu sinyal untuk mempercepat, bukan sinyal untuk panik.
Ketiga, pada soal deduktif dan kuantitatif, eliminasi sering lebih cepat daripada penyelesaian penuh. Buang pilihan yang jelas bertentangan dengan premis atau yang besarannya tidak masuk akal, lalu bandingkan sisa pilihan. Pada soal PBM, baca kalimat perbaikanmu dengan suara dalam hati, karena kalimat Indonesia yang efektif hampir selalu terasa lebih ringan saat dibaca.
Keempat, jangan mengosongkan jawaban di menit terakhir. Karena tidak ada pengurangan untuk jawaban salah dalam UTBK, mengisi semua nomor selalu lebih baik daripada membiarkannya kosong. Sisakan sekitar satu menit terakhir tiap subtes untuk memastikan tidak ada nomor yang terlewat.
Terakhir, ingat bahwa TPS hanyalah salah satu bagian dari keputusan besar yang sedang kamu ambil. Pilihan program studi, daya tampung, dan cara kerja seleksi juga menentukan hasil akhirmu. Persiapkan TPS dengan tempo yang benar, tetapi pantau juga ketentuan pendaftaran dan jadwal resmi di laman SNPMB supaya persiapan teknismu tidak tertinggal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
TPS UTBK itu apa?
TPS UTBK adalah Tes Potensi Skolastik, salah satu dari dua kelompok tes dalam UTBK-SNBT. Tim SNPMB menyatakan bahwa TPS bertujuan mengukur kemampuan kognitif yang dipelajari dan berkembang melalui proses belajar serta pengalaman, baik di dalam maupun di luar kelas. Kemampuan ini dianggap perlu supaya seseorang berhasil menjalani pendidikan formal, khususnya pendidikan tinggi.
Ada berapa subtes dalam TPS UTBK?
TPS terdiri atas empat subtes, yaitu Penalaran Umum, Pengetahuan dan Pemahaman Umum, Pemahaman Bacaan dan Menulis, serta Pengetahuan Kuantitatif. Subtes Penalaran Umum masih dipecah lagi menjadi tiga bagian, yaitu penalaran induktif, penalaran deduktif, dan penalaran kuantitatif, yang masing-masing punya alokasi waktu sendiri.
Berapa jumlah soal dan waktu untuk TPS UTBK?
Menurut kerangka acuan UTBK-SNBT 2026, TPS berisi 90 soal yang dikerjakan dalam 90 menit. Rinciannya adalah Penalaran Umum 30 soal dalam 30 menit, Pengetahuan dan Pemahaman Umum 20 soal dalam 15 menit, Pemahaman Bacaan dan Menulis 20 soal dalam 25 menit, serta Pengetahuan Kuantitatif 20 soal dalam 20 menit.
Apa bedanya TPS dengan Tes Literasi di UTBK?
TPS mengukur potensi berpikir dan bernalar, sedangkan Tes Literasi menilai kapasitas peserta mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, dan mengolah informasi dari materi tertulis. Tes Literasi berisi Literasi dalam Bahasa Indonesia, Literasi dalam Bahasa Inggris, dan Penalaran Matematika, dengan total 70 soal dalam 105 menit. Keseluruhan UTBK berlangsung 195 menit tanpa waktu istirahat.
Apakah TPS UTBK menguji hafalan materi pelajaran SMA?
Tidak secara langsung. TPS menguji cara berpikir, meski sebagian materinya tetap bersinggungan dengan kurikulum SMA dan sederajat, terutama pada subtes Pengetahuan Kuantitatif. Panitia menegaskan bahwa peserta diharapkan tidak hanya menguasai rumus, tetapi juga mampu memahami pola, menganalisis informasi, menarik kesimpulan, dan mengambil keputusan dengan tepat dalam waktu terbatas.
Apakah TPS UTBK sama dengan TKA?
Berbeda. TKA atau Tes Kemampuan Akademik dikelola Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen dan mengukur kompetensi dasar pada mata pelajaran, dengan Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib ditambah dua mata pelajaran pilihan. TKA bersifat sukarela dan bertujuan memberi informasi capaian akademik murid secara objektif, sedangkan TPS adalah bagian dari UTBK yang mengukur potensi bernalar.
Bagaimana cara belajar TPS UTBK yang efektif?
Fokuskan latihan pada pemahaman alasan jawaban, bukan pada hafalan tipe soal. Biasakan menuliskan alasan jawaban dalam satu kalimat, berlatih per subtes dengan timer sesuai alokasi waktu resmi, memilah kesalahan berdasarkan kategorinya, dan menjalani simulasi utuh secara berkala supaya terbiasa dengan durasi 195 menit tanpa istirahat.
Apakah komposisi TPS bisa berubah setiap tahun?
Bisa. Tim SNPMB menerbitkan kerangka acuan UTBK baru setiap tahun dan struktur tes sudah beberapa kali berubah dalam beberapa tahun terakhir. Angka pada artikel ini mengacu pada kerangka acuan UTBK-SNBT 2026 sebagai ketentuan resmi terakhir yang diterbitkan panitia, jadi selalu cek ulang laman snpmb.id sebelum periode ujian yang akan kamu ikuti.
Ditulis oleh
Tim Redaksi Target Lulus
Tim penyusun konten Target Lulus. Seluruh info seleksi dirujuk ke pengumuman resmi BKN, KemenPAN-RB, SNPMB, dan instansi terkait dengan tautan sumber di setiap artikel.
Tim Redaksi Target Lulus menyusun rangkuman materi, bank soal, dan panduan seleksi berdasarkan kisi-kisi serta peraturan resmi. Setiap klaim jadwal dan persyaratan selalu ditautkan ke sumber resminya.
Diawasi oleh Ahmad Thariq Syauqi, penanggung jawab redaksi Target Lulus. Profil dan kredensial lengkap ada di halaman Tentang.


